Ilustrasi: Presiden AS, Donald Trump pusing memikirkan langkah untuk menghancurkan Iran.(Gemini AI) TODAYNEWS.ID — Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran dalam dua pekan terakhir menimbulkan dampak kemanusiaan besar. Data terbaru menunjukkan lebih dari 3.000 orang tewas sejak konflik pecah pada akhir Februari 2026.
Laporan dari Human Rights Activists News Agency (HRANA) menyebutkan korban terbanyak terjadi di Iran. Hingga Sabtu (14/3/2026), jumlah korban jiwa di negara tersebut mencapai 2.420 orang.
Korban di Iran terdiri dari warga sipil dan personel militer. HRANA mencatat sebanyak 1.298 korban merupakan warga sipil, sementara 1.122 lainnya berasal dari kalangan militer.
Konflik ini sendiri mulai memanas sejak serangan yang terjadi pada 28 Februari 2026. Sejak saat itu, jumlah korban terus bertambah seiring belum adanya tanda-tanda deeskalasi.
Wilayah lain yang terdampak besar adalah Lebanon. Negara tersebut mencatat jumlah korban jiwa tertinggi kedua dalam konflik ini.
Menurut data dari Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon, sedikitnya 826 orang tewas akibat serangan udara. Dari jumlah tersebut, 106 korban merupakan anak-anak.
Salah satu insiden terbaru terjadi di kota Bourj Qalaouiyeh. Serangan udara di wilayah itu dilaporkan menghantam fasilitas kesehatan.
Serangan tersebut menewaskan sedikitnya 12 tenaga medis. Peristiwa itu menambah daftar panjang korban dari kalangan sipil dalam konflik yang sedang berlangsung.
Di Irak, sedikitnya 32 orang dilaporkan tewas. Sebagian besar korban berasal dari kelompok Pasukan Mobilisasi Rakyat atau PMF.
Konflik juga melibatkan militer dari negara lain. Seorang tentara dari Prancis dilaporkan tewas di wilayah Kurdistan Irak pada Kamis (12/3/2026).
Sementara itu, di Israel dilaporkan 15 orang meninggal dunia. Sebagian korban merupakan warga sipil akibat serangan rudal di kawasan permukiman Beit Shemesh.
Amerika Serikat juga mencatat korban dari kalangan militernya. Sebanyak 13 prajurit dilaporkan tewas selama konflik berlangsung.
Korban tersebut termasuk enam personel yang meninggal dalam kecelakaan pesawat pengisian bahan bakar di Irak. Enam prajurit lainnya tewas akibat serangan yang terjadi di Kuwait.
Sejumlah negara Teluk juga melaporkan korban jiwa. Kuwait mencatat enam kematian, sementara Uni Emirat Arab mengonfirmasi enam korban jiwa.
Negara lain seperti Oman dan Bahrain juga melaporkan korban dalam rangkaian serangan balasan yang terjadi. Situasi ini menunjukkan konflik telah meluas ke berbagai wilayah di kawasan tersebut.
Dampak konflik juga memicu gelombang pengungsian besar. Data dari badan pengungsi United Nations High Commissioner for Refugees menyebut lebih dari 3 juta warga Iran kini mengungsi untuk mencari keselamatan.
Selain korban jiwa dan pengungsi, kerugian finansial akibat perang juga meningkat tajam. Dalam enam hari pertama konflik, Amerika Serikat dilaporkan telah mengeluarkan biaya sekitar 11,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp176 triliun.
Di tengah situasi tersebut, Israel menyatakan konflik dengan Iran kini memasuki fase menentukan. Pernyataan itu memunculkan kemungkinan bahwa perang dapat berlangsung lebih lama.
Pemerintah Iran juga memberikan respons atas perkembangan tersebut. Teheran memperingatkan akan menggunakan persenjataan yang lebih canggih sebagai bentuk balasan.
Iran bahkan menyebut kemungkinan penggunaan rudal dengan daya ledak lebih kuat. Langkah tersebut disebut sebagai respons atas gugurnya sejumlah komandan militer dan tokoh politik mereka dalam konflik yang sedang berlangsung.