Militer Amerika Serikat (AS). Sumber: Pars Today TODAYNEWS.ID — Markas besar United States Department of Defense melaporkan sekitar 150 anggota militer Amerika Serikat mengalami luka dalam konflik dengan Iran. Data tersebut menggambarkan dampak dari serangan balasan Iran terhadap pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Informasi itu disampaikan pada Selasa setelah rentetan serangan roket dan drone terjadi di sejumlah lokasi militer AS. Serangan tersebut disebut sebagai balasan Iran dalam konflik yang sedang berlangsung.
Sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt membenarkan laporan mengenai jumlah korban luka tersebut. Ia mengutip laporan yang sebelumnya dipublikasikan oleh Reuters.
Leavitt mengatakan jumlah tentara yang terluka mencapai sekitar 150 orang sejak operasi militer dimulai. Ia menegaskan angka tersebut masih merupakan perkiraan awal.
Ia juga menyatakan bahwa data korban masih dapat berubah seiring proses verifikasi. Pemerintah AS masih melakukan pengumpulan informasi dari berbagai unit militer di lapangan.
Juru bicara Pentagon Sean Parnell menyampaikan sebagian besar korban mengalami luka ringan. Namun terdapat beberapa tentara yang mengalami cedera serius.
Parnell menyebut delapan tentara Amerika Serikat mengalami luka parah akibat serangan tersebut. Sementara itu, sebagian besar korban telah mendapat penanganan medis.
Menurutnya, sebanyak 108 anggota militer yang sempat terluka telah kembali menjalankan tugas. Hal ini menunjukkan sebagian besar cedera yang dialami tidak bersifat kritis.
Data ini menjadi gambaran awal mengenai dampak serangan Iran terhadap pasukan AS. Informasi tersebut juga menunjukkan skala serangan balasan yang terjadi dalam konflik tersebut.
Selain korban luka, laporan juga menyebutkan adanya korban jiwa di pihak militer Amerika Serikat. Serangan balasan Iran dilaporkan menewaskan tujuh tentara AS di kawasan Timur Tengah.
Korban tersebut terjadi dalam serangan di dua negara, yaitu Kuwait dan Saudi Arabia. Serangan dilakukan melalui roket dan drone yang menargetkan fasilitas militer.
Sementara itu, laporan dari PBS menyebut Pentagon telah mengirimkan perkiraan kebutuhan dana perang kepada Kongres. Perhitungan tersebut disebut belum mencakup seluruh pengeluaran militer.
Laporan itu menyebut estimasi biaya yang disampaikan Pentagon sebagian besar hanya berkaitan dengan kebutuhan amunisi. Pengeluaran lain yang terkait dengan perang disebut belum dimasukkan dalam perhitungan tersebut.
PBS juga menyebut angka tersebut lebih tinggi dibanding perkiraan sebelumnya dari sejumlah analis independen. Selain itu, estimasi biaya harian perang diperkirakan dapat berubah.
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran saat ini telah memasuki hari ke-11. Situasi tersebut membuat pemerintah AS mempertimbangkan langkah tambahan terkait pembiayaan operasi militer.
Pemerintahan Presiden Donald Trump menyatakan kemungkinan akan mengajukan tambahan dana perang kepada Kongres. Namun beberapa anggota parlemen disebut menolak rencana tersebut.
Penolakan itu berkaitan dengan rencana pemberian dana tambahan bagi Pentagon. Sejumlah anggota parlemen menegaskan tidak akan menyetujui tambahan anggaran untuk operasi militer tersebut.