x

Selat Hormuz Ditutup Buntut Serangan AS ke Iran, Distribusi Minyak dari Kawasan Teluk Terganggu

waktu baca 3 menit
Senin, 2 Mar 2026 08:31 58 Afrizal Ilmi

TODAYNEWS.ID — Pasar minyak dunia bersiap menghadapi potensi guncangan pasokan setelah serangan Amerika Serikat terhadap Iran akhir pekan kemarin. Ketegangan ini kembali memicu kekhawatiran gangguan di Selat Hormuz.

Analis memperkirakan akan terjadi reaksi spontan atau “knee-jerk reaction” pada harga minyak saat perdagangan dibuka kembali di New York. Namun perhatian utama tertuju pada kemungkinan gangguan berkepanjangan terhadap ekspor minyak dari kawasan Teluk.

CEO Vanda Insights, Vandana Hari, menilai situasi saat ini belum pernah terjadi sebelumnya. Ia menyebut konflik yang berkembang sulit diprediksi arahnya.

“Pada titik ini, tampaknya kita menghadapi konflik militer skala penuh antara AS dan Iran, yang belum pernah terjadi sebelumnya dan arahnya sulit diprediksi,” kata Vandana Hari, dikutip dari CNBC, Senin (2/3/2026).

Ia memperingatkan potensi dampak serius terhadap pasar energi global. “Jika konflik berlangsung berhari-hari dan Iran serta sekutunya membalas secara maksimal, kita menghadapi skenario terburuk bagi minyak, termasuk gangguan besar terhadap arus minyak di Timur Tengah,” ujarnya.

Perhatian kini tertuju pada Selat Hormuz sebagai jalur vital perdagangan energi. Selat ini berada di antara Oman dan Iran dan menjadi titik transit utama minyak global.

Data Kpler menunjukkan sekitar 13 juta barel minyak per hari melewati selat tersebut pada 2025. Jumlah itu setara sekitar 31% dari seluruh pengiriman minyak laut dunia.

Selat Hormuz menghubungkan produsen utama seperti Arab Saudi, Iran, Irak, dan Uni Emirat Arab dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Posisi strategisnya menjadikannya potensi chokepoint dalam perdagangan global.

Kantor berita internasional melaporkan kapal-kapal komersial menerima pesan radio dari Garda Revolusi Iran. Pesan itu memperingatkan bahwa “tidak ada kapal yang diizinkan melewati Selat Hormuz.”

Namun hingga kini belum ada konfirmasi resmi bahwa Teheran benar-benar menutup jalur tersebut. Ketidakpastian ini menambah volatilitas pasar.

Bob McNally dari Rapidan Energy Group menyebut situasi ini sebagai “perkembangan yang sangat serius.” Ia menyoroti ketergantungan besar pasar global terhadap arus energi melalui Hormuz.

Saul Kavonic dari MST Marquee menilai pasar akan menghitung berbagai risiko, termasuk potensi hilangnya 2 juta barel per hari ekspor Iran. Ia juga membuka kemungkinan blokade penuh Selat Hormuz.

“Jika rezim Iran merasa menghadapi ancaman eksistensial, upaya menutup Selat Hormuz tidak bisa dikesampingkan,” katanya.

Kavonic menilai dampaknya bisa melampaui krisis energi sebelumnya. “Ini bisa menghadirkan skenario tiga kali lebih parah dibanding embargo minyak Arab dan Revolusi Iran pada 1970-an, serta mendorong harga minyak ke tiga digit, sementara harga LNG kembali menguji rekor tertinggi 2022,” ujarnya.

Sebagai gambaran, harga minyak Brent ditutup di USD 72,48 per barel pada Jumat dengan kenaikan sekitar 19% sepanjang tahun ini. Sementara WTI berada di USD 62,02 dan menguat 16% secara year-to-date.

Andy Lipow dari Lipow Oil Associates menilai serangan terbaru meningkatkan risiko gangguan pasokan secara signifikan. Ia menyebut skenario terburuk adalah “serangan terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi yang diikuti penutupan total Selat Hormuz.”

 

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

4 hours ago
10 hours ago
23 hours ago
1 day ago

LAINNYA
x
x