Anggota Komisi II DPR RI Azis Subekti. Foto: Dok Fraksi Gerindra TODAYNEWS.ID – Anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra, Azis Subekti, menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belakangan ini yang kerap memicu kekhawatiran publik.
Di balik kekhawatiran tersebut, Azis meminta masyarakat dan pengambil kebijakan untuk tidak terjebak dalam kepanikan angka makro ekonomi tersebut. Menurutnya, menjaga stabilitas rupiah pada dasarnya adalah menjaga kepulan asap di dapur rakyat.
“Musuh utama rakyat saat ini bukanlah kurs dolar, melainkan kenaikan harga kebutuhan pokok. Medan pertempuran ekonomi kita yang sesungguhnya ada di pasar rakyat,” ujar Azis dalam keterangan tertulis, pada Jumat (5/6/2026).
Azis menilai, bagi sebagian besar masyarakat, angka kurs di papan perdagangan internasional tidak berdampak langsung sebelum ia masuk ke dalam dapur.
Faktanya, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Mei 2026, meskipun inflasi tahunan terkendali di angka 3,08%, sektor makanan dan minuman justru melonjak hingga 4,94%.
“Artinya hampir separuh tekanan inflasi Indonesia hari ini berasal dari kebutuhan dasar masyarakat. Lebih jauh lagi, inflasi bulanan Mei 2026 sebesar 0,28 persen juga didorong terutama oleh kelompok yang sama,” beber Azis.
“Lonjakan harga ini bukan sepenuhnya karena dolar, melainkan masalah domestik: rantai pasok yang panjang, cuaca, dan biaya logistik yang mahal,” tambah Anggota Komisi II DPR itu.
Sebab itu, Azis menilai, membaca keadaan ekonomi Indonesia hari ini memerlukan cara pandang yang lebih tenang dan lebih dalam.
“Artinya, solusi yang dibutuhkan tidak selalu berupa intervensi besar di pasar valuta asing. Banyak solusi justru berada di lapangan seperti di gudang pangan, di sentra produksi, di pasar induk, di koperasi desa hingga di pelabuhan dan jalur distribusi serta di tangan pemerintah daerah,” papar Azis.
Karena itu, strategi menghadapi tekanan global tidak boleh semata-mata berpusat pada pertahanan rupiah. Indonesia harus membangun pertahanan kedua yang jauh lebih penting, yakni pertahanan harga kebutuhan pokok.
“Jika pertahanan pertama dijalankan oleh Bank Indonesia dan otoritas keuangan, maka pertahanan kedua harus dijalankan secara terpadu oleh Bulog, Bapanas, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, pemerintah daerah, koperasi, BUMDes, hingga jaringan pasar rakyat,” pungkasnya.
Lebih jauh, kata Azis, rakyat harus mengetahui kondisi yang sebenarnya mengenai langkah yang sedang dilakukan pemerintah, serta alasan di balik setiap kebijakan yang diambil.
“Kepercayaan publik adalah salah satu bentuk modal ekonomi yang paling berharga. Pada akhirnya, tujuan kebijakan ekonomi Indonesia tidak boleh berhenti pada upaya mempertahankan angka kurs tertentu,” ucapnya.
Azis mengatakan, keberhasilan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi tidak bisa dipandang melalui angka-angka makroekonomi semata ataupun melalui sudut pandang para analis pasar.
“Ukuran keberhasilan yang paling hakiki bukanlah ketika para analis pasar memberikan pujian. Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika petani tetap menanam dengan optimisme, nelayan tetap melaut dengan tenang, pedagang pasar tetap memperoleh keuntungan yang layak, UMKM tetap tumbuh, dan keluarga-keluarga sederhana tetap mampu memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa dihantui kecemasan setiap kali mendengar kabar pelemahan rupiah,” urainya.
Stabilitas ekonomi lanjut Azis, adalah kemampuan sebuah bangsa memastikan bahwa badai global berhenti di pelabuhan statistik dan tidak pernah berubah menjadi penderitaan di meja makan rakyatnya.
“Di situlah makna terdalam dari menjaga rupiah. Bukan sekadar mempertahankan nilai mata uang, melainkan menjaga martabat kehidupan jutaan rakyat yang bergantung padanya,” demikian Azis.