Anggota Komisi VI DPR RI, Rahmat Saleh. Foto: Todaynews/Dhanis TODAYNEWS.ID – Anggota Komisi VI DPR RI, Rahmat Saleh, mengingatkan pemerintah terkait dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang kian mengkhawatirkan.
Legislator Fraksi PKS itu menyoroti potensi lonjakan harga berbagai kebutuhan pokok di dalam negeri akibat ketidakstabilan geopolitik global saat ini.
Menurut Rahmat, meroketnya nilai tukar dolar AS bukan semata-mata karena kelemahan ekonomi domestik, melainkan dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik global. Kendati demikian, pemerintah diminta untuk tetap siaga mengantisipasi efek domino yang dihasilkan.
“Sekarang kan kenaikan harga dolar itu dipicu efek geopolitik global. Artinya kita tidak serta-merta karena kelemahan di nasional, tetapi ini perlu kita waspadai,” ujar Rahmat kepada TODAYNEWS di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta (19/5/2026).
Ancaman Terhadap Industri dan Bahan Pangan Impor
Rahmat menjelaskan bahwa dampak langsung dari penguatan mata uang dolar AS akan langsung dirasakan pada komoditas dan barang-barang yang bergantung pada jalur impor.
Anggota DPR Dapil Sumatra Barat (Sumbar) I itu juga memprediksi bahwa kenaikan harga kebutuhan pokok akan sangat memukul masyarakat di tingkat daerah.
Lebih lanjut, sektor industri nasional yang mengandalkan bahan baku dari luar negeri juga terancam menghadapi masa-masa sulit dalam proses produksi.
“Otomatis harga hampir semua kebutuhan kita yang impor itu pasti naik dan itu pengaruhnya di daerah. Kita khawatir terhadap industri yang membutuhkan bahan baku impor. Kalau dolar terus naik, maka harga modal otomatis semakin besar, begitu juga harga produksi, sehingga harga di lapangan semakin naik,” tuturnya.
Serukan Gerakan Konsumsi Produk Lokal
Menghadapi situasi yang menantang ini, Rahmat mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mengobarkan semangat nasionalisme ekonomi dengan memprioritaskan produk dalam negeri.
Langkah konkrit yang bisa dilakukan adalah dengan menahan diri dari mengonsumsi barang-barang impor, baik untuk kebutuhan pangan maupun sandang.
“Kita berupaya memakai produk lokal. Mengonsumsi produk-produk baik itu pangan, pakaian, dan lain sebagainya, agak menghindari dulu yang produk-produk diimpor. Sehingga kita bisa fight menghadapi kondisi yang ada,” tegasnya.
BUMN Pangan Diminta Ambil Peran Penguatan Ekonomi Domestik
Di sisi lain, Rahmat juga mendesak Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di sektor pangan untuk segera mengambil tindakan strategis. Komisi VI berharap BUMN dapat bertindak sebagai benteng pertahanan dengan fokus meningkatkan kapasitas produksi lokal.
“Sektor BUMN-BUMN yang melaksanakan backup terhadap pangan harus konsen untuk meningkatkan produksi lokal juga,” ujarnya.
Dengan menguatnya produksi dalam negeri, ketergantungan Indonesia terhadap komoditas impor diharapkan dapat ditekan secara signifikan.
“Sehingga perputaran ekonomi lokal itu menguat, ketergantungan kita terhadap impor menurun, dan walaupun terjadi kenaikan dolar, itu tidak terlalu berpengaruh kepada masyarakat,” pungkas Rahmat.