x

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.859 per Dolar AS, Tekanan Global Masih Membayangi

waktu baca 2 menit
Selasa, 23 Jun 2026 19:36 20 Afrizal Ilmi

TODAYNEWS.ID — Nilai tukar rupiah kembali menutup perdagangan di zona negatif pada Selasa (23/6/2026). Mata uang Garuda melemah di tengah tekanan yang masih melanda mayoritas mata uang Asia terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp17.859 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 0,09 persen dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.843 per dolar AS.

Pelemahan rupiah terjadi seiring penguatan dolar AS yang masih menjadi perhatian pelaku pasar global. Kondisi tersebut turut memberikan tekanan terhadap sejumlah mata uang di kawasan Asia.

Baht Thailand menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam pada perdagangan hari ini. Mata uang tersebut tercatat turun 0,67 persen terhadap dolar AS.

Tekanan juga dialami peso Filipina yang terkoreksi 0,37 persen. Sementara itu, won Korea Selatan melemah 0,14 persen selama sesi perdagangan berlangsung.

Dolar Singapura ikut bergerak di zona merah dengan penurunan 0,19 persen. Yuan China juga tercatat melemah 0,15 persen terhadap mata uang AS.

Rupe India tidak luput dari tekanan pasar dan terkoreksi 0,16 persen. Pergerakan tersebut menunjukkan dominasi penguatan dolar AS terhadap sebagian besar mata uang regional.

Di tengah tren pelemahan kawasan, ringgit Malaysia justru mencatatkan kinerja positif. Mata uang Negeri Jiran itu menguat 0,10 persen terhadap dolar AS.

Yen Jepang juga mampu bertahan di jalur penguatan dengan kenaikan 0,07 persen. Dolar Taiwan bergerak naik tipis sebesar 0,01 persen, sementara dolar Hong Kong turut menguat terbatas.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, menilai tekanan terhadap rupiah masih berkaitan dengan arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Menurutnya, penguatan dolar AS tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah.

“Tekanan terhadap rupiah masih berasal dari penguatan dolar AS, meskipun pelemahannya diperkirakan tidak terlalu dalam karena sebagian sentimen global mulai menunjukkan perbaikan,” kata Amru di Jakarta, Selasa.

Amru menjelaskan penguatan dolar mulai tertahan setelah muncul perkembangan positif dalam perundingan antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi tersebut membantu meredakan kekhawatiran pasar terkait potensi gangguan pasokan energi dan tekanan inflasi global.

Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari rencana penerbitan Panda Bond melalui skema Local Currency Transaction (LCT). “Langkah ini dinilai dapat mengurangi ketergantungan terhadap USD dan mendukung stabilitas nilai tukar dalam jangka menengah,” jelas Amru.

Meski demikian, tingginya kebutuhan valuta asing untuk impor dan pembayaran kewajiban luar negeri masih membatasi ruang penguatan rupiah, sementara kurs JISDOR Bank Indonesia juga melemah ke level Rp17.868 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.819 per dolar AS.

 

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

5 hours ago
6 hours ago
14 hours ago
1 day ago
1 day ago
4 days ago

LAINNYA
x
x

mancingduit

situs slot gacor