x

Rupiah Melemah, Kenaikan Harga Minyak Dunia Jadi Sentimen Utama

waktu baca 3 menit
Senin, 22 Jun 2026 11:05 30 Azis Arriadh

TODAYNEWS.ID – Nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin pagi tercatat melemah 9 poin atau 0,05 persen menjadi Rp17.813 per dolar AS. Posisi tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.804 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia yang kembali menjadi perhatian pasar global.

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah dengan kisaran di Rp17.780 – Rp17.830 dipengaruhi oleh faktor global kembali meningkatnya harga minyak dunia seiring ancaman Presiden Trump untuk menyerang Lebanon jika Hizbullah masih terus menyerang Israel, membuat perundingan AS dan Iran yang akan berlangsung di Swiss terancam batal,” ungkapnya kepada ANTARA di Jakarta, Senin.

Mengutip Sputnik, delegasi Iran dilaporkan meninggalkan lokasi perundingan dengan Amerika Serikat di Swiss pada Minggu (21/6) sebagai bentuk protes terhadap ancaman Presiden AS Donald Trump.

Berdasarkan sumber yang dekat dengan tim perunding Iran, langkah tersebut dilakukan sebagai respons atas ancaman Trump yang akan kembali menyerang Iran apabila Teheran gagal membujuk kelompok pro-Iran di Lebanon agar berhenti “membuat masalah.”

Ketua tim negosiasi Iran Mohammad Bagher Ghalibaf kemudian meminta Amerika Serikat berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan. Ia juga menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran siap merespons segala bentuk ancaman yang muncul.

Perundingan tingkat teknis antara Iran dan Amerika Serikat yang dimediasi Pakistan dan Qatar berlangsung secara tertutup di kawasan resor Burgenstock, Pegunungan Alpen, pada Minggu (21/6).

Dari dalam negeri, pasar juga mencermati rencana pemerintah yang akan mengeluarkan sejumlah insentif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Selain itu, pelaku pasar menunggu hasil penilaian Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait status pasar modal Indonesia.

“Namun, pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) akan menjadi perhatian pasar apakah pasar saham Indonesia akan di down grade atau tetap di emerging markets (EMs),” ucap Rully.

Sebelumnya, MSCI telah merilis laporan aksesibilitas pasar saham Indonesia yang masih menempatkan Indonesia dalam kategori emerging markets (EMs) pada 18 Juni. Selanjutnya, pada Selasa (23/6) malam waktu Amerika Serikat, MSCI dijadwalkan mengumumkan annual market classification review yang akan menilai kondisi ekonomi Indonesia secara lebih menyeluruh, termasuk aspek transparansi, risiko politik, dan risiko ekonomi.

Rully menilai terdapat kemungkinan Indonesia mengalami penurunan status menjadi frontier market yang memiliki tingkat kematangan dan aksesibilitas pasar modal lebih rendah dibandingkan emerging markets.

“Kemungkinan akan di down grade ke frontier (memiliki pasar modal yang kurang matang dan kurang dapat diakses dibandingkan EMs) terkait rencana tata niaga ekspor komoditas strategis lewat satu pintu lembaga pemerintah. Nah, itu tata kelolanya sangat berisiko. Perangkat peraturan dan perundangan belum diperbarui. Contohnya saat ini yang berlaku untuk penanaman modal masih pada koridor undang-undang penanaman modal yang lama,” kata dia.

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

3 hours ago
3 days ago
3 days ago
3 days ago
4 days ago
4 days ago

LAINNYA
x
x

mancingduit

situs slot gacor