Laporan: Afrizal Ilmi
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir dalam acara Beyond Professional Youth Con (BPYC) di Chillax, Jakarta, Minggu (1/11/2026). (Dok. Kemenpora) TODAYNEWS.ID – Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menyebut tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan menjadi persoalan global. Berbagai tantangan tersebut membutuhkan kolaborasi lintas sektor agar dapat ditangani secara bersama-sama.
Hal itu disampaikan Erick saat menjadi narasumber dalam acara Beyond Professional Youth Con (BPYC) di Chillax, Jakarta, Minggu (1/11/2026). Ia menekankan pentingnya sinergi pemerintah, sektor terkait, dan generasi muda dalam menghadapi persoalan tersebut.
Erick memaparkan lima tantangan utama yang dihadapi pemuda di berbagai negara. Persoalan itu mencakup kesempatan kerja, kualitas pendidikan, kesehatan mental, kualitas informasi, hingga hubungan sosial.
Menurut Erick, berbagai persoalan tersebut tidak bisa dipandang sebagai masalah yang hanya dialami anak muda di Indonesia. Kondisi serupa juga terjadi di berbagai belahan dunia.
“Tentu ini jangan dilihat sepotong-potong. Oh, ini hanya di Indonesia saja yang sedang dalam situasi susah mencari pekerjaan, tidak, ini terjadi di dunia, karena lima ini terjadi, ini tantangan kita bersama,” ujar Erick.
Selain persoalan tersebut, Erick turut menyoroti potensi sektor olahraga dalam mendukung pembangunan ekonomi dan karakter generasi muda. Ia menilai industri olahraga (sport industry) dan wisata olahraga (sport tourism) memiliki peluang untuk dikembangkan.
Kedua sektor tersebut dinilai tidak hanya berkontribusi terhadap perekonomian, tetapi juga dapat menjadi sarana pembentukan karakter bangsa. Nilai disiplin dan ketangguhan menjadi bagian yang dapat dibangun melalui aktivitas keolahragaan.
Erick mengatakan pemerintah terus membuka ruang kerja sama dengan berbagai kementerian. Langkah ini dilakukan untuk memastikan program pelayanan dan pemagangan bagi pemuda dapat berjalan secara terintegrasi.
Salah satu bentuk kolaborasi tersebut dilakukan bersama Kementerian Ketenagakerjaan melalui Indonesia Youth Summit. Kerja sama itu mencakup pembangunan di bidang ketenagakerjaan, kepemudaan, dan keolahragaan.
“Kita harus bersinergi dengan kementerian lain, contoh kita baru saja dengan Kementerian Ketenagakerjaan kerja sama (program pembangunan bidang ketenagakerjaan, kepemudaan, dan keolahragaan) di Indonesia Youth Summit,” jelas Erick.
Menurut Erick, penanganan tantangan pemuda membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk anak muda sebagai pemangku kepentingan. Pemerintah perlu membuka ruang agar perspektif dan aspirasi generasi muda turut menjadi pertimbangan dalam penyusunan program.
Ia pun menyatakan akan terus mendorong sinergi lintas kementerian sekaligus membuka ruang komunikasi dengan kalangan pemuda. Dengan demikian, berbagai program yang dijalankan dapat lebih sesuai dengan kebutuhan generasi muda.
“Ya ini akan saya coba terus disinergikan, membuka jalan, dan saya juga perlu perspektif kalian,” pungkas Erick.
Melalui kolaborasi tersebut, Erick berharap tantangan yang dihadapi generasi muda dapat ditangani secara bersama-sama. Sinergi antara pemerintah dan pemuda menjadi salah satu pendekatan yang didorong untuk menjawab persoalan tersebut.
Editor: Aziz Arriadh