Juru bicara Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akrami-Nia, berpidato di hadapan khalayak ramai di Teheran pada, Selasa 14 Juli 2026. Foto: Press TV TODAYNEWS.ID – Juru bicara Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akrami-Nia, melontarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat terkait penutupan Selat Hormuz. Ia menegaskan bahwa segala bentuk tindakan agresi militer tidak akan mampu memaksa Iran membuka kembali jalur air strategis tersebut.
“Presiden Amerika Serikat yang agresif harus belajar menghormati hukum internasional dan martabat bangsa. Selat Hormuz tidak akan pernah dibuka kembali melalui perang, permusuhan, atau tindakan agresi,” tegas Akrami-Nia, seperti dilansir Press TV, pada Rabu (15/7/2026).
Pernyataan ini muncul menyusul ketegangan baru setelah kedua pihak sebelumnya menandatangani nota kesepahaman (MoU) bulan lalu. Kesepakatan tersebut bertujuan mengakhiri siklus permusuhan akibat serangan Amerika-Israel yang berlangsung sejak 28 Februari lalu.
Dalam kesepakatan sementara tersebut, Iran sempat mengizinkan transit maritim bebas biaya selama 60 hari melalui rute khusus yang telah ditetapkan.
Namun, Iran memutuskan kembali menutup koridor tersebut karena AS dinilai melanggar kesepakatan dengan berupaya mengawal lalu lintas melalui rute ilegal di luar pengaturan yang telah disepakati.
“Angkatan bersenjata Iran berdiri teguh melawan pelanggaran komitmen Amerika. Setiap tindakan di Selat Hormuz di luar ketentuan MoU akan ditanggapi dengan tegas,” ujar Akrami-Nia.
Ia menekankan bahwa satu-satunya jalan untuk membuka kembali jalur tersebut adalah dengan kepatuhan penuh AS terhadap hak-hak bangsa Iran dan ketentuan dalam MoU.
“Satu-satunya cara untuk membuka kembali Selat Hormuz adalah dengan Amerika Serikat menghormati hak-hak bangsa Iran dan mematuhi ketentuan nota kesepahaman untuk mengakhiri perang,” tegasnya.
“Rakyat Iran juga harus yakin bahwa angkatan bersenjata, khususnya Angkatan Darat, akan tetap teguh hingga nafas terakhir dan tidak akan menyerahkan setitik pun hak-hak bangsa Iran di Selat Hormuz,” tambahnya menegaskan.