TODAYNEWS.ID – Sumber intelijen militer terbuka (Open Source Intelligence/OSINT) merilis sejumlah citra satelit yang menunjukkan kerusakan pada sejumlah pangkalan Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah, menyusul aksi balasan Iran terhadap target-target strategis di kawasan tersebut.
Berdasarkan foto-foto yang tersebar pada Minggu (12/7/2026) seperti dilaporkan Press TV, memperlihatkan dampak serangan di Yordania, Qatar, Bahrain, dan Kuwait.
Dua target yang diidentifikasi mengalami kerusakan parah adalah hanggar drone MQ-4C Triton di Pangkalan Udara Pangeran Hassan, Yordania, serta sebuah hanggar di Pangkalan Udara al-Udeid, Qatar—yang merupakan pos terdepan terbesar AS di wilayah tersebut.
Selain itu, citra lain menunjukkan dampak serangan rudal terhadap fasilitas penyimpanan peralatan di markas besar Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain.
Sumber yang sama juga menampilkan foto kobaran api di sebuah pangkalan yang digunakan AS untuk sistem artileri roket HIMARS (High Mobility Artillery Rocket System).
Ketegangan di kawasan ini meningkat setelah serangkaian insiden yang melibatkan pihak AS di wilayah Iran sejak 7 April lalu, tepatnya setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata sepihak terkait eskalasi agresi AS-Israel terhadap Iran.
Meskipun Washington dan Teheran sempat menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi oleh Pakistan—dengan poin utama penghentian agresi di semua lini—pelanggaran terhadap kesepakatan tersebut diklaim masih terus terjadi.
Menanggapi situasi tersebut, Angkatan Bersenjata Iran menyatakan telah menerapkan kebijakan balasan tanpa kompromi.
Awal bulan ini, Teheran bahkan meningkatkan strategi pertahanannya dengan rasio serangan minimal dua banding satu; yakni membalas setiap satu serangan terhadap target Iran dengan menghantam dua target musuh.
Selain serangan militer, Iran juga dilaporkan telah menutup Selat Hormuz bagi seluruh lalu lintas maritim.
Teheran menegaskan bahwa pembukaan kembali jalur perdagangan krusial tersebut bergantung sepenuhnya pada penghentian intervensi militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.