Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Adisatrya Suryo Sulisto. Foto: Istimewa TODAYNEWS.ID – Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Adisatrya Suryo Sulisto, menyoroti soal dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi dan Liquefied Petroleum Gas (LPG) non-subsidi ukuran 5,5 kg dan 12 kg.
Menurutnya dampak dari kenaikan tersebut akan sangat dirasakan bagi para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) maupun pekerja di sektor tersebut.
“Ya, memang harga-harga sudah naik, terkait BBM, LPG dan ini pastinya akan memberatkan dunia usaha. Terutama UKM ya, usaha menengah dan kecil. Saya kurang tahu persis peningkatannya, tapi kan cukup signifikan juga ya,” kata Adisatrya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (20/4/2026).
Maka dari itu, legislator dari Fraksi PDI Perjuangan itu pun menyayangkan atas kenaikan harga BBM dan LPG non-subsidi.
Semestinya pemerintah kata dia, melakukan sosialisasi terlebih dahulu kepada masyarakat sebelum menaikan harga energi non-subsidi tersebut.
“Tentu yang kami sayangkan, ini kenaikannya juga secara tiba-tiba lah gitu ya. Seharusnya kan ada apa namanya, sosialisasi terlebih dahulu, beberapa waktu ke depan akan ada rencana untuk menaikkan,” ucapnya.
Sehingga kata Adisatrya tidak terjadi kepanikan di bawah dan masyarakat, khususnya para pelaku usaha kecil mempunyai persiapan dalam menghadapi kenaikan tersebut.
“Jadi paling tidak pengusaha itu bisa ada persiapan lah. Nah yang kami harapkan tentunya dengan kondisi yang lebih berat ini, yang pasti akan memberatkan, tadi saya sudah sampaikan UKM, usaha kecil menengah,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Anggota DPR Dapil Jawa Tengah VIII itu berharap kenaikan harga BBM dan LPG non-subsidi tidak membuat para pelaku usaha melakukan PHK terhadap karyawannya. “Nah, mudah-mudahan tidak ada PHK, pengurangan pekerja,” ucapnya.
“Karena dengan meningkatnya biaya produksi, biaya jualan tentunya akan menggerus keuntungan dari para pengusaha. Ya mudah-mudahan dampaknya terutama dari soal PHK tadi tidak akan signifikan, ini yang kami harapkan,” demikian Adisatrya menambahkan.
Sebagai informasi, kenaikan harga BBM non subsidi jenis Pertamax Turbo dengan RON 98 melonjak tajam dari Rp13.100 per liter menjadi Rp19.400 per liter, mulai Sabtu (18/4/2026).
Kenaikan juga dialami Dexlite dari Rp14.200 per liter menjadi Rp23.600 per liter. Hal yang sama juga terjadi pada harga Pertamina DEX yang melesat dari Rp14.500 per liter menjadi Rp23.900 per liter.
Sementara itu, harga Pertamax dengan RON 92 masih tetap Rp12.300 per liter. Adapun harga BBM jenis Pertalite masih Rp10.000 per liter. Begitu juga dengan dengan Pertamina Biosolar yang masih dipatok di harga Rp6.800 per liter.
Sedangkan kenaikan juga terjadi pada LPG non-subsidi tabung 5,5 kg dan 12 kg yang berlaku di seluruh Indonesia, mulai Sabtu (18/4/2026).
Adapun kenaikan LPG tersebut disesuaikan dengan masing-masing di daerah di Indonesia, seperti kenaikan yang terjadi wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Barat, harga LPG 5,5 kg tercatat naik sebesar Rp 17.000 menjadi Rp 107.000 per tabung.
Pada kemasan LPG 12 kg di wilayah Banten hingga Bali kini dibanderol seharga Rp 228.000 atau mengalami kenaikan sebesar Rp 36.000 dari harga sebelumnya.
Di wilayah Sumatra dan sebagian Sulawesi, harga LPG 5,5 kg kini dipatok pada level Rp 111.000, sementara untuk tabung 12 kg dijual seharga Rp 230.000. Harga ini berlaku merata mulai dari Aceh, Sumatra Utara, Riau, Lampung, hingga Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan.
Untuk wilayah Kalimantan dan Sulawesi Utara, harga LPG 5,5 kg ditetapkan sebesar Rp 114.000 dna harga tabung 12 kg mencapai Rp 238.000 per tabung. Khusus untuk wilayah Free Trade Zone (FTZ) Batam, harga terpantau lebih rendah yakni Rp 100.000 untuk ukuran 5,5 kg dan Rp 208.000 untuk ukuran 12 kg.
Sedangkan, untuk wilayah Kalimantan Utara khususnya Tarakan, harga LPG 5,5 kg tercatat Rp 124.000 dan ukuran 12 kg dipatok pada harga Rp 265.000.
Selanjutnya, harga tertinggi berada di wilayah Maluku dan Papua di mana LPG 5,5 kg kini mencapai Rp 134.000 dan LPG 12 kg seharga Rp 285.000 per tabung.