Sejumlah penumpang bus di Phnom Penh, Kamboja. (Foto: Xinhua/Van Pov) TODAYNEWS.ID – Harga bahan bakar retail di Kamboja terus menunjukkan tren penurunan setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua pekan. Informasi ini disampaikan oleh Kementerian Perdagangan Kamboja pada Selasa (14/4) malam waktu setempat.
Dalam pengumuman resminya, kementerian tersebut menyebutkan bahwa harga 1 liter bensin reguler kini dibanderol sebesar 5.100 riel (100 riel = Rp427), berlaku mulai Rabu (15/4) hingga pemberitahuan berikutnya. Angka ini turun sekitar 1,9 persen dibandingkan harga sebelumnya yang berada di level 5.200 riel dalam lima hari terakhir.
Selain itu, harga solar juga mengalami penurunan yang cukup signifikan. Saat ini, solar dijual seharga 6.400 riel per liter atau turun sebesar 7,24 persen. Sementara itu, harga elpiji tidak mengalami perubahan dan tetap berada di angka 3.900 riel per liter.
Di sisi lain, Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, pada Sabtu (11/4) menyampaikan bahwa Departemen Umum Bea Cukai (General Department of Customs and Excise) Kamboja telah menyalurkan subsidi sekitar 50 juta dolar AS (1 dolar AS = Rp17.135) setiap bulan. Subsidi ini diberikan melalui pengurangan pajak dan bea impor guna meminimalkan dampak kenaikan harga bahan bakar.