x

Dugaan Rasisme di EPA, Erick Thohir Minta I-League dan Klub Tegas Lawan

waktu baca 3 menit
Rabu, 22 Apr 2026 18:36 21 Afrizal Ilmi

TODAYNEWS.ID — Ketua Umum PSSI Erick Thohir menegaskan bahwa rasisme tidak memiliki tempat dalam sepakbola Indonesia dan harus ditindak tegas di semua level kompetisi.

Ia juga menekankan pentingnya pembinaan karakter sejak usia muda sebagai fondasi utama dalam mencetak pemain berkualitas.

PSSI secara tegas menyatakan tidak membenarkan segala bentuk ucapan, ungkapan, maupun perilaku rasisme dalam sepakbola nasional. Sikap ini berlaku baik di kompetisi pembinaan maupun level profesional tanpa pengecualian.

Erick menilai setiap insiden yang mengandung unsur rasisme harus disikapi secara serius dan bertanggung jawab. Ia meminta seluruh pihak, mulai dari operator kompetisi hingga klub, untuk tidak mengabaikan persoalan tersebut.

Menurutnya, pembinaan sepakbola usia muda tidak boleh hanya berorientasi pada hasil pertandingan semata. Aspek teknis harus berjalan beriringan dengan pembentukan karakter pemain.

Ia menegaskan pentingnya pengendalian emosi, rasa hormat kepada lawan, serta kepatuhan terhadap aturan pertandingan. Selain itu, penghormatan kepada keputusan wasit juga menjadi bagian penting dalam proses pembinaan.

“FIFA dan PSSI tidak membenarkan segala bentuk ucapan dan ungkapan rasisme di sepakbola. Baik di kancah internasional dan juga nasional. Sejak usia muda, pemain harus dibentuk dengan prinsip fair play, anti-rasisme, toleransi, disiplin, dan penghormatan kepada wasit. Prestasi tidak cukup hanya dengan skill. Prestasi harus ditopang karakter dan watak yang baik,” ujarnya di Jakarta, Rabu (22/4/2026).

Sebagai langkah konkret, Erick meminta operator kompetisi untuk terus menegakkan nilai saling menghargai. I-League sebagai pengelola Elite Pro Academy (EPA) serta Liga 1 dan Liga 2 diminta aktif dalam hal tersebut.

Klub-klub peserta kompetisi juga diminta berperan aktif dalam menjaga suasana kompetisi yang sehat. Erick menilai empati antar pemain harus terus dibangun tanpa henti.

PSSI juga mendorong penguatan sosialisasi terkait nilai-nilai anti-rasisme dan anti-kekerasan. Hal ini harus dilakukan secara konsisten di seluruh level kompetisi, baik usia muda maupun profesional.

Selain itu, pengawasan pertandingan diminta untuk diperketat. Tujuannya agar kompetisi benar-benar menjadi ruang belajar yang aman dan mendidik bagi pemain muda.

“Kompetisi usia muda harus menjadi wadah tumbuhnya pemain yang lebih dewasa, matang, dan berkemampuan mumpuni. Karena itu, operator, klub, ofisial, dan seluruh pemangku kepentingan harus memastikan pembinaan karakter berjalan sekuat pembinaan teknik,” lanjutnya.

Dalam konteks kasus yang terjadi, Erick turut mengapresiasi langkah damai yang dilakukan oleh klub. Bhayangkara FC dan Dewa United dinilai telah menunjukkan sikap yang tepat.

Ia menyebut upaya mempertemukan Fadly Alberto dan Rakha Nurkholis sebagai contoh positif.

“Saya apresiasi karena kedua klub tetap menomorsatukan persatuan dan kesatuan sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Pancasila, bahwa meskipun kita berbeda-beda daerah, tapi kita semua ini berjuang bersama demi Indonesia. Ini harus menjadi pelajaran bagi pemain,” pungkasnya.

 

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

7 hours ago
10 hours ago
14 hours ago
1 day ago
2 days ago
2 days ago

LAINNYA
x
x