Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Nurdin Halid, memberikan keterangan kepada awak media usai Rapat Kerja Komisi VI DPR RI di Jakarta, Selasa (18/11/2025). Ia menyoroti penguatan ketahanan energi nasional di tengah dinamika global. (Foto: Dok. ANTARA) TODAYNEWS.ID – Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Nurdin Halid, memberikan apresiasi terhadap kinerja Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, seiring capaian ketahanan energi Indonesia yang dinilai semakin kuat dalam menghadapi gejolak energi global.
Menurut Nurdin, pencapaian tersebut tidak terjadi secara instan. Ia menilai keberhasilan ini merupakan hasil dari kebijakan strategis pemerintah, khususnya di bawah kepemimpinan Bahlil di sektor energi. Berbagai langkah yang diambil dinilai mampu memperkokoh fondasi kemandirian energi nasional.
“Ini bukan capaian yang datang tiba-tiba. Ada kerja sistematis dari hulu ke hilir yang dilakukan pemerintah. Saya melihat Menteri ESDM berhasil membaca situasi global dan menyiapkan Indonesia lebih tahan terhadap guncangan,” kata Nurdin Halid di Jakarta, Kamis.
Sementara itu, dalam laporan terbaru JP Morgan bertajuk “Pandora’s Bog: The Global Energy Shock of 2026”, Indonesia menempati posisi kedua dunia sebagai negara yang paling tahan terhadap krisis energi, khususnya di sektor minyak dan gas.
Dalam menghadapi dinamika tersebut, Bahlil menerapkan tiga strategi utama yang didorong pemerintah, yakni meningkatkan produksi minyak dan gas domestik, melakukan diversifikasi energi melalui program biodiesel, serta mengembangkan bahan bakar alternatif seperti bioetanol.
Lebih lanjut, Nurdin menilai kebijakan seperti B50 dan E20 menjadi langkah konkret dalam menekan ketergantungan terhadap impor energi, yang selama ini menjadi titik lemah banyak negara.
“Negara-negara maju justru terpukul karena terlalu bergantung pada impor. Indonesia sekarang menunjukkan arah berbeda, memanfaatkan sumber daya sendiri sebagai kekuatan utama,” ujarnya.
Selain itu, diversifikasi energi juga diperkuat melalui pengembangan dimethyl ether dan compressed natural gas (CNG) sebagai pengganti LPG impor. Kebijakan ini dinilai sebagai langkah strategis di tengah ketidakpastian rantai pasok global.
Dalam laporan JP Morgan, ketahanan energi Indonesia juga didukung oleh tingginya produksi batu bara domestik serta posisinya sebagai salah satu eksportir utama batu bara termal di dunia.
Tidak hanya itu, Indonesia juga tercatat sebagai salah satu produsen gas alam penting secara global, yang semakin memperkuat posisi dalam peta energi dunia.
Nurdin menegaskan bahwa capaian ini harus dimanfaatkan sebagai momentum untuk mempercepat transisi energi nasional. Hal ini termasuk pengembangan energi terbarukan agar ketahanan energi tidak hanya kuat dalam jangka pendek, tetapi juga berkelanjutan.
“Ke depan, kita tidak boleh berhenti. Ketahanan energi harus dibarengi dengan transisi menuju energi bersih agar Indonesia tidak hanya tahan krisis, tetapi juga kompetitif di masa depan tuturnya.
Nurdin berharap sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat terus diperkuat guna menjaga momentum positif ini di tengah dinamika energi global yang semakin kompleks.