x

Dari Dapur ke Kandang, Inovasi Dosen ITB Sulap Sampah Organik Jadi Telur dan Daging

waktu baca 6 menit
Selasa, 23 Jun 2026 21:03 25 Asep Awaludin

TODAYNEWS.ID – Di tengah persoalan sampah yang tak kunjung usai di Kota Bandung, sebuah inovasi sederhana namun revolusioner lahir dari sebuah lingkungan permukiman di RW 02 Kelurahan Pasirlayung.

Tumpukan sisa sayuran, kulit buah, hingga limbah dapur yang biasanya berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), kini justru berubah menjadi sumber pangan bergizi berupa telur, ayam kampung, ikan, hingga entok.

Inovasi tersebut diberi nama Bersemi Farm: Dari Sampah Menjadi Gizi, sebuah konsep peternakan terpadu berbasis pengolahan sampah organik yang digagas dosen Program Studi Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB), Linus Pasasa.

Berbekal keresahan sebagai warga Bandung terhadap krisis sampah yang terus berulang, Linus menghadirkan Apartemen Ayam Maggot, sebuah sistem peternakan vertikal yang mampu mengolah sampah organik hanya dalam waktu dua hari sekaligus menghasilkan sumber protein bagi masyarakat.

“Saya sebagai warga Bandung merasa prihatin melihat persoalan sampah. Sebagai dosen, saya berpikir bagaimana ilmu yang kami miliki bisa memberi manfaat langsung kepada masyarakat. Dari situlah lahir Bersemi Farm, dari sampah menjadi gizi,” kata Linus di Pasirlayung, pada Selasa, 23 Juni 2026.

Di balik gagasan tersebut tersimpan rekam jejak akademik yang panjang. Linus merupakan dosen Program Studi Fisika ITB yang menyelesaikan pendidikan Sarjana (S1) di ITB pada 1989, melanjutkan Magister (S2) di kampus yang sama pada 1993, kemudian meraih gelar Doktor (S3) dari Universität Karlsruhe, Jerman, pada 1999.

Selama lebih dari dua dekade menjadi akademisi, ia aktif mengembangkan penelitian di bidang fisika kebumian, mitigasi bencana, kecerdasan buatan, hingga pemberdayaan masyarakat berbasis ilmu pengetahuan.

Dalam beberapa tahun terakhir, fokus pengabdian masyarakat dan riset Linus semakin mengarah pada pengelolaan sampah organik berbasis ekonomi sirkular.

Pada 2026, ia memimpin program Pemberdayaan Masyarakat melalui Inovasi Pengolahan Sampah Organik Berbasis Maggot Black Soldier Fly (BSF) dan Ayam Petelur untuk Mendukung Penurunan Stunting di Kelurahan Lebak Siliwangi, Kota Bandung.

Pada tahun yang sama, ia juga mengembangkan inovasi “Dari Sampah Menjadi Gizi: Pengolahan Sampah Organik Perkotaan Berbasis Maggot BSF dan Ayam Petelur untuk Mendukung Program Makan Bergizi Gratis”, yang menjadi salah satu landasan ilmiah lahirnya Bersemi Farm.

Tidak hanya itu, pada 2026 Linus juga menjalankan program edukasi mitigasi bencana gempa dan longsor berbasis maket serta video animasi di Padawaras, Tasikmalaya, sekaligus mempublikasikan penelitian mengenai pemanfaatan kecerdasan buatan dalam mendeteksi ambang curah hujan pemicu longsor di kawasan Bandung Highlands.

Hal tersebut menunjukkan konsistensinya dalam mengembangkan riset yang berorientasi pada penyelesaian persoalan masyarakat.

Komitmen terhadap pengelolaan sampah sebenarnya telah dimulai jauh sebelum Apartemen Ayam Maggot berdiri. Pada 2025, ia mengembangkan teknologi pengelolaan sampah organik dan sampah plastik menuju konsep Zero Waste di MTs Muhajirin melalui penerapan komposter dan hidroponik.

Pada tahun yang sama, ia juga melakukan survei dan analisis air tanah di kawasan Rajamandala-Cianjur-Sukabumi serta pendampingan eksperimen fisika berbasis sensor smartphone bagi guru dan siswa SMA di Kota Depok.

Sementara pada 2024, Linus memimpin program Penerapan IPTEKSAINS dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Menjadi Kompos dan Pupuk Organik Cair (POC) di RW 02 Kelurahan Pasirlayung.

Ia juga memberdayakan Karang Taruna melalui pengembangan ekonomi sirkular berbasis pengelolaan sampah dan pertanian organik skala rumah tangga untuk mendukung konsep Zero Waste sekaligus memperkuat ketahanan pangan masyarakat.

Pada tahun yang sama, ia juga melakukan berbagai penelitian mengenai mitigasi bencana gempa, pemanfaatan metode geofisika di daerah rawan bencana Cianjur, serta perencanaan logistik kemanusiaan pascagempa.

Rekam jejak penelitian Linus juga menunjukkan konsistensi yang panjang. Sejak 2023 hingga 2015, ia menghasilkan berbagai penelitian mengenai mitigasi gempa bumi, tanah longsor, analisis sinyal seismik Gunung Tangkuban Parahu, kecerdasan buatan untuk klasifikasi gempa vulkanik dan risiko longsor, eksplorasi panas bumi, hingga kajian potensi bencana tanah longsor di kawasan pariwisata Tana Toraja.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pendekatan ilmiah selalu menjadi dasar dalam setiap inovasi yang dikembangkannya, termasuk pengelolaan sampah berbasis maggot dan peternakan terpadu.

Dengan bekal pengalaman akademik, penelitian, dan pengabdian masyarakat tersebut, Bersemi Farm tidak sekadar menjadi proyek lingkungan, tetapi merupakan implementasi nyata hasil riset perguruan tinggi yang diterapkan langsung di tengah masyarakat untuk menjawab persoalan sampah, memperkuat ketahanan pangan, mendukung program penurunan stunting, sekaligus mendorong terwujudnya ekonomi sirkular di tingkat permukiman.

Konsep yang dibangunnya berbeda dengan pengolahan sampah organik pada umumnya. Jika komposter membutuhkan waktu hingga tiga bulan untuk mengurai limbah, larva lalat tentara hitam atau maggot mampu menyelesaikan proses tersebut hanya dalam waktu sekitar 48 jam.

Lebih menarik lagi, maggot hasil penguraian itu tidak berhenti sebagai limbah, melainkan dimanfaatkan kembali sebagai pakan ayam kampung, ikan, hingga entok. Bahkan sisa makanan matang dari rumah tangga langsung menjadi pakan ternak, sementara kulit buah dan sayuran menjadi makanan utama maggot.

Sistem tersebut menciptakan siklus yang nyaris tanpa limbah.

“Kami ingin memperpanjang siklus sampah organik. Jangan berhenti menjadi kompos saja, tetapi bisa menghasilkan protein untuk masyarakat,” ujarnya.

Apartemen Ayam Maggot dirancang secara vertikal agar sesuai dengan kondisi perkotaan yang minim lahan. Kandang ayam ditempatkan bertingkat, sementara di bawahnya terdapat tempat budidaya maggot yang langsung memanfaatkan kotoran ayam sebagai sumber nutrisi.

Desain tersebut membuat seluruh proses berlangsung secara alami. Telur ayam bahkan dibuat menggelinding otomatis ke tempat penampungan sehingga tidak pecah dan lebih mudah dipanen.

Saat ini fasilitas tersebut mampu mengolah hingga 300 kilogram sampah organik setiap hari. Namun produksi sampah dari warga RW 02 baru mencapai sekitar 50 hingga 75 kilogram per hari, jauh melampaui target Pemerintah Kota Bandung yang hanya menargetkan 25 kilogram sampah organik per RW setiap hari.

Karena kapasitasnya masih besar, Linus membuka peluang bagi RW lain untuk ikut memanfaatkan fasilitas tersebut.

“Kami sengaja membuat kapasitas besar. Kalau ada wilayah lain yang belum memiliki pengolahan sampah organik, sampahnya bisa dibawa ke sini sehingga tidak lagi berakhir di TPA,” katanya.

Kesuksesan Bersemi Farm tidak hanya ditopang teknologi, tetapi juga kolaborasi antara Institut Teknologi Bandung melalui program pengabdian masyarakat, Pemerintah Kota Bandung, Kelurahan Pasirlayung, Dinas Lingkungan Hidup, Tim Gasla, Bank Sampah Bersemi 02, PKK, hingga masyarakat yang disiplin memilah sampah sejak dari rumah.

Sampah organik diolah menjadi pakan maggot, sedangkan sampah anorganik dipilah dan disalurkan ke bank sampah sehingga residu yang dibuang ke TPS menjadi sangat sedikit.

Keberhasilan inovasi tersebut mulai menarik perhatian banyak pihak. Sejumlah wilayah di Kota Bandung seperti Bandung Wetan, Lebak Siliwangi, Tamansari, hingga Cipadung mulai mereplikasi konsep Apartemen Ayam Maggot.

Bahkan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman telah melakukan kunjungan untuk mempelajari model tersebut sebagai salah satu alternatif pengelolaan sampah di kawasan permukiman.

Bagi Linus, tujuan utama dari inovasi ini bukan sekadar membangun kandang ayam atau budidaya maggot. Ia ingin membangun budaya baru, yakni budaya mengolah sampah sejak dari rumah.

Menurutnya, jika setiap rumah tangga mampu memilah sampah organik dan anorganik sejak dari dapur, maka beban TPA dapat berkurang secara drastis.

“Kami berharap ide ini bisa diadopsi di seluruh Indonesia. Sampah organik seharusnya selesai di tingkat lingkungan. Kalau itu bisa dilakukan, persoalan sampah bukan lagi menjadi beban, tetapi berubah menjadi sumber pangan, sumber ekonomi, dan sumber kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.

Ketua RW 02 Kelurahan Pasirlayung, Rahayu Wijayanti mengatakan, perubahan perilaku masyarakat memang membutuhkan proses.

Sejak 2023 warga mulai dikenalkan dengan pemilahan sampah melalui drum komposter.

Namun sistem tersebut belum berjalan optimal karena belum ada petugas yang secara khusus mengelolanya. Perubahan besar mulai terjadi ketika Program Gasla hadir pada awal 2026 dan kemudian diperkuat dengan pembangunan Apartemen Ayam Maggot.

Kini warga tidak hanya diminta memisahkan sampah organik dan anorganik, tetapi juga memilah sampah organik menjadi dua kategori, yakni sisa makanan matang yang menjadi pakan ayam dan limbah dapur seperti kulit buah maupun sayuran yang diolah menjadi pakan maggot.

“Alhamdulillah masyarakat mulai terbiasa memilah sampah. Bahkan saya sendiri ikut belajar bagaimana mengolah sampah yang benar agar bisa memberikan manfaat,” ujar Rahayu. ***

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

7 hours ago
7 hours ago
15 hours ago
1 day ago
2 days ago
4 days ago

LAINNYA
x
x

mancingduit

situs slot gacor