x

BRIN Siapkan Energi dari Limbah Sawit Hingga Empat Kandidat Vaksin Malaria

Laporan: Akbar Budi Prasetia

waktu baca 3 menit
Rabu, 28 Okt 2026 11:57 76

TODAYNEWS.ID – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan sejumlah inovasi untuk menjawab persoalan strategis Indonesia, mulai dari mengurangi ketergantungan pada impor LPG, mempercepat pengembangan vaksin malaria, hingga mengolah sampah di tingkat desa.

Perkembangan riset tersebut dilaporkan Kepala BRIN Arif Satria kepada Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (27/10/2026).

Salah satu potensi yang disoroti adalah pemanfaatan limbah industri kelapa sawit sebagai sumber energi alternatif. BRIN mengkaji konversi limbah cair pengolahan sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) dan tandan kosong sawit menjadi listrik dengan potensi kapasitas sekitar 3,9 gigawatt.

Menurut Arif, pengolahan limbah sawit juga berpeluang menghasilkan biogas yang dapat dikonversi menjadi gas tabung. Inovasi ini diharapkan menjadi alternatif untuk menekan ketergantungan Indonesia terhadap LPG impor.

“Jadi saat ini kita mengimpor LPG kurang lebih Rp 97 triliun per tahun. Dengan adanya biogas yang bisa dikonversi menjadi gas tabung, saya kira ini akan menjadi salah satu solusi energi kita ke depan,” kata Arif.

Di sektor kesehatan, BRIN tengah mengembangkan empat kandidat vaksin malaria. Prabowo meminta proses riset dipercepat agar pengembangan vaksin dapat selesai tiga tahun lebih awal dari jadwal semula.

Arif mengatakan Presiden juga menjanjikan dukungan terhadap pengembangan hingga produksi vaksin tersebut. Percepatan ini diharapkan tidak hanya memperkuat kemandirian kesehatan Indonesia, tetapi juga membuka peluang kontribusi bagi penanganan malaria di tingkat global.

Salah satu perhatian riset tersebut adalah Plasmodium vivax, jenis parasit malaria yang menjadi tantangan dalam pengembangan vaksin.

“Bapak Presiden minta agar proses riset terkait dengan vaksin ini dipercepat,” ujar Arif.

Selain vaksin, BRIN mengembangkan kandidat obat herbal untuk memperkuat kemandirian farmasi nasional. Saat ini, terdapat 19 kandidat obat herbal yang diarahkan menuju kategori fitofarmaka.

Arif menjelaskan, sebagian kandidat tersebut masih berada pada tahap Obat Herbal Terstandar (OHT). Pengembangan lebih lanjut diperlukan agar produk dapat mencapai tingkat fitofarmaka, yakni obat berbahan alam yang telah didukung pembuktian ilmiah mengenai khasiat dan keamanannya.

Sementara itu, dalam penanganan sampah, Prabowo meminta agar teknologi hasil penelitian tidak berhenti sebagai prototipe. Pemerintah ingin inovasi tersebut segera diterapkan di lingkungan rumah tangga dan desa.

Untuk merealisasikannya, BRIN akan bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dengan melibatkan perguruan tinggi dalam membantu penanganan sampah di desa-desa.

“Bapak Presiden mengarahkan bagaimana teknologi-teknologi level rumah tangga dan level desa ini segera diimplementasikan,” kata Arif.

Ia menegaskan, BRIN berperan mengembangkan prototipe, sedangkan penerapannya membutuhkan kolaborasi dengan berbagai pihak agar hasil penelitian benar-benar dapat dimanfaatkan masyarakat.

Untuk itu, Arif berharap implementasi teknologi pengolahan sampah turut mendukung gerakan ASRI yang dicanangkan Prabowo. Dengan demikian, riset nasional diharapkan tidak hanya menghasilkan temuan ilmiah, tetapi juga memberikan solusi konkret bagi persoalan energi, kesehatan, dan lingkungan.

Editor: Azis Arriadh

Pilkada & Pilpres

LAINNYA