Presiden Prabowo Subianto, melakukan kunjungan ke kediaman Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), di Solo, pada Minggu (20/7/20205) lalu. Foto: BPMI Setpres TODAYNEWS.ID – Ekonom senior INDEF, Didik J Rachbini menilai, safari politik yang dilakukan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi) berdampak buruk bagi ekonomi nasional.
“Tidak hanya bagi kepentingan rakyat dan juga bagi pemerintah, safari politik Jokowi menjadi faktor negatif atau buruk di dalam ekonomi nasional,” katanya kepada TODAYNEWS, Senin (29/6/2026).
Ia menuturkan, safari itu tidak memiliki kepentingan bagi masyarakat. Bahkan, hanya menimbulkan persaingan politik.
“Safari politik ini adalah pilihan jalan sendiri dan akan meningkatkan persaingan politik, yang tidak ada kepentingan langsung dengan harapan rakyat,” jelasnya.
“Langkah safari politik ini diperkuat oleh paling tidak 80 kali blusukan Gibran ke daerah-daerah,” tambahnya.
Ia memandang, safari itu hanya sekadar nafsu politik yang lebih mengendepankan kepentingan elite ketimbanh rakyat.
“Persaingan semakin intensif karena nafsu politik dan kepentingan elite yang otomatis meninggalkan kepentingan rakyat, terutama ekonomi,” ujarnya.
Ia menuturkan, Jokowi masih memiliki akar rumput yang kuat di dalam pemerintahan saat ini.
“Jokowi dengan hasrat dan nafsu kekuasaan yang tinggi dan masih punya akar yang bisa dihidupkan kembali di dalam pemerintahan dan rakyat,” katanya.
Ia menilai, safari politik Jokowi akan menggangggu stabilitas politik nasional dan pemerintahan.
“Gerakan politik yang terlalu dini ini akan menjadi hama, yang akan mengganggu dan bisa menggerogoti pemerintahan,” katanya.
Ia menambahkan, Jokowi ingin agar safari politik yang dilakukannya berimplikasi terhadap Gibran Rakabuming Raka selaku wakil presiden.
“Pengaruh politiknya jelas masih ada dan bahkan masih cukup kuat serta terus akan memperkuatnya dengan cantolan pada jabatan anaknya sebagai wakil presiden,” pungkasnya.