Ilustrasi: Menu Makan Bergizi Gratis. (Istimewa) TODAYNEWS.ID – Gerakan mahasiswa beberapa hari lalu terhadap anjloknya nilai tukar rupiah dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk diberhentikan menjadi aspirasi mereka saat melakukan aksi unjuk rasa.
Demo yang dilakukan mahasiswa dan sejumlah lapisan masyarakat merupakan bentuk kekecewaan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah.
“Gerakan yang dilakukan oleh mahasiswa beberapa hari lalu dibeberapa daerah merupakan bentuk kekecewaan terhadap pemerintahan Prabowo Subianto,” ujar Pengamat Kebijakan Publik, Fernando Emas kepada TODAYNEWS, Senin (15/6/2026).
Fernando menilai, aksi yang dilakukan mahasiswa sudah tepat. Oleh karena itu, pemerintah harus mendengarkan dan menampung seluruh tuntutan para mahasiswa untuk perbaikan kebijakan ke depan.
“(Pemerintah) bebal menanggapi kritikan terkait dengan kinerja dan program yang pelaksanaannya terdapat banyak penyimpangan,” katanya.
Ia menilai, permintaan masyarakat untuk menghentikan program prioritas seperti MBG dan Koperasi Desa Merah Putih perlu ditindaklanjuti pemerintah.
“Sesuatu yang realistis karena melihat pelaksanaannya yang terkesan dipaksakan,” imbuhnya.
Selain itu, program prioritas yang dijalankan menghabiskan anggaran yang tidak sedikit. Kondisi ekonomi dalam negeri saat ini juga sedang tidak baik-baik saja.
“Apalagi kondisi APBN saat ini yang sangat terbebani dengan program tersebut,” katanya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Program MBG merupakan upaya pemerintah untuk memastikan pemenuhan gizi anak-anak Indonesia sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) nasional.
Hal itu disampaikan Prabowo dalam sambutannya pada acara Building Indonesia’s Future Generations Through Nutrition di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (3/6/2026).
“Makan bergizi gratis ini konsepnya adalah sangat sederhana, bahwa kenyataan kita menemukan bahwa sebagian dari anak-anak kita tiap pagi berangkat ke sekolah tidak makan pagi. Bahkan di rumahnya jarang makan yang bergizi,” kata Prabowo.
Prabowo mengungkapkan bahwa kasus kekurangan gizi anak yang berdampak pada tumbuh kembang dan kemampuan mereka dalam mencapai potensi secara optimal masih ditemukan di sejumlah wilayah dengan angka yang cukup tinggi.
“Ada bagian-bagian negara kita yang lebih dari 20 persen, mendekati 30 persen, anak-anak kita kurang gizi. Yang terjadi adalah apa yang disebut stunting, sel otak kurang berkembang, sel otot kurang berkembang, sel otak, otot dan tulang kurang berkembang,” ungkap Prabowo.
Prabowo menuturkan bahwa dampak kekurangan gizi tidak hanya berpengaruh terhadap kesehatan, tetapi juga dapat membatasi kesempatan anak-anak untuk berkembang di bidang pendidikan maupun pekerjaan pada masa mendatang.
Pengalaman tersebut, menurut Presiden, ditemuinya secara langsung saat berinteraksi dengan masyarakat di berbagai daerah.
“Artinya, satu, dia tidak akan berkembang sesuai potensi dia sebagai manusia normal, berarti kemampuan dia di bawah normal. Berarti yang kita menemukan dia kadang-kadang untuk lulus SD saja susah. Bahkan mungkin dia tidak bisa mengganti pekerjaan bapaknya sebagai petani, sebagai buruh harian atau sebagai nelayan,” ujar Presiden.
Oleh karena itu, Prabowo menekankan bahwa Badan Gizi Nasional (BGN) dan program MBG memiliki peran strategis dalam mendukung kelompok masyarakat yang membutuhkan serta memperkuat kualitas generasi penerus bangsa.
Presiden juga menyampaikan bahwa sejumlah negara maju telah menerapkan program serupa untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas sumber daya manusianya.
“Jadi program ini adalah sangat penting. Dan program ini, kalau berhasil, akan menimbulkan suatu kemajuan yang sangat besar untuk ekonomi kita,” ujar Presiden.