x

Pelemahan Rupiah Tak Cukup Diatasi dengan Kebijakan Moneter Jangka Pendek

waktu baca 2 menit
Sabtu, 6 Jun 2026 15:29 34 Dhanis Iswara

TODAYNEWS.ID – Anggota Komisi XI DPR RI, Kamrussamad, menilai pelemahan nilai tukar rupiah belakangan ini tidak dapat diselesaikan hanya melalui kebijakan moneter jangka pendek.

Menurutnya, tekanan terhadap rupiah merupakan konsekuensi logis dari struktur ekonomi nasional yang selama dua dekade terakhir masih bergantung tinggi pada pembiayaan luar negeri berbasis valuta asing (valas).

Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut tercermin dari neraca transaksi berjalan Indonesia yang dalam jangka panjang lebih sering mengalami defisit.

Oleh karena itu, diperlukan langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS guna memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

“Tekanan rupiah hari ini memang disebabkan oleh struktur ekonomi kita dalam kurun dua dekade terakhir yang lebih ditopang pada pinjaman luar negeri berbasis valas. Itu terlihat dari neraca transaksi berjalan kita yang lebih sering mengalami defisit,” kata Kamrussamad, mengutip dari keterangannya, Sabtu (6/6/2026).

Sebagai solusi cepat, Kamrussamad mendorong optimalisasi skema Local Currency Settlement (LCS) yang telah disepakati Indonesia dengan sejumlah negara mitra dagang utama, seperti Tiongkok, Jepang, dan Malaysia.

Penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan bilateral dinilai ampuh menekan kebutuhan dolar AS di pasar domestik, sehingga stabilitas rupiah dapat lebih terjaga di tengah ketidakpastian global.

“Yang pertama harus dilakukan adalah mengaktifkan kembali Local Currency Settlement yang pernah ditandatangani dengan beberapa negara, termasuk China, Jepang, dan Malaysia. Ini penting untuk mengurangi ketergantungan transaksi perdagangan terhadap dolar,” katanya.

Lebih lanjut, Kamrussamad memandang fenomena pelemahan rupiah ini harus dijadikan momentum untuk membenahan struktur ekonomi secara menyeluruh.

Oleh karena itu, ia meminta pemerintah fokus memperkuat sektor-sektor produktif yang mampu menghasilkan devisa secara berkelanjutan.

Di sisi lain, ia mengapresiasi dan optimistis terhadap implementasi kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang saat ini tengah berjalan untuk mendongkrak cadangan devisa nasional, meski hasilnya membutuhkan waktu.

“Pemberlakuan devisa hasil ekspor yang mulai berjalan akan membantu meningkatkan cadangan devisa kita. Tapi semuanya memang perlu waktu,” tambahnya.

Menurut pernyataannya, Kamrussamad, menegaskan bahwa kombinasi antara penguatan cadangan devisa, optimalisasi skema LCS, dan pembenahan struktur ekonomi makro akan menjadi fondasi krusial bagi stabilitas mata uang Garuda di masa depan.

“Kita harus memperkuat fondasi ekonomi kita sendiri. Kalau struktur ekonominya semakin kuat, maka rupiah juga akan lebih tahan menghadapi berbagai tekanan eksternal,” pungkasnya.

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

3 days ago
4 days ago
4 days ago
5 days ago
5 days ago
5 days ago

LAINNYA
x
x

mancingduit