Gambar ilustrasi – Presiden AS Donald Trump didesak untuk menghentikan perang dengan Iran. Sumber: Dibuat oleh Gemini AI TODAYNEWS.ID – Sebuah jajak pendapat terbaru menunjukkan bahwa hampir tujuh dari sepuluh warga Amerika Serikat (AS) mendesak Washington untuk segera mengakhiri perang ilegalnya terhadap Iran “secepat mungkin”.
Hasil ini mengungkap adanya ketidakpuasan publik yang mendalam terhadap operasi militer pemerintahan Trump yang kini telah berlangsung selama lebih dari tiga bulan.
Berdasarkan hasil survei yang dirilis oleh The Economist/YouGov, seperti dilaporkan kantor berita Press TV, pada Jumat (5/6/2026), menemukan bahwa 68% responden percaya AS “harus membuat kesepakatan untuk mengakhiri perang di Iran secepat mungkin.”
Sebaliknya, hanya 11% responden yang menentang langkah tersebut, sementara 21% sisanya menyatakan tidak yakin.
Adapun survei The Economist/YouGov ini dilakukan dari tanggal 29 Mei hingga 1 Juni, yang melibatkan 1.604 responden dengan margin of error sebesar plus atau minus 3,5 persen.
Hasil tersebut menyoroti meningkatnya penentangan di dalam negeri AS terhadap konflik yang dinilai memakan biaya besar ini.
Selain memicu ketidakstabilan, konflik tersebut juga memberikan tekanan besar pada ekonomi global dan sangat merusak reputasi Washington di mata dunia.
Dampak Ekonomi dan Lonjakan Harga BBM di Amerika
Salah satu dampak paling signifikan dari konflik ini adalah penutupan Selat Hormuz, jalur vital bagi pengiriman minyak global. Situasi tersebut telah memicu kenaikan tajam harga energi di seluruh dunia.
Menurut AAA, harga rata-rata satu galon bensin reguler di Amerika Serikat mencapai sekitar $4,24 pada Kamis (4/6) sore, sebuah kenaikan signifikan dari $3,14 pada tahun sebelumnya.
Lonjakan ini membuat masyarakat AS merasakan dampak ekonomi langsung dari kebijakan luar negeri pemerintahan Trump atas nama Israel terhadap Republik Islam Iran.
Jajak pendapat tersebut juga mengungkapkan bahwa secara umum, 60 persen warga Amerika menentang perang melawan Iran, dan hanya 28 persen yang menyatakan dukungan.
Seiring dengan meningkatnya tekanan ekonomi di dalam negeri, pemerintahan Trump kini menghadapi desakan kuat untuk mendengarkan aspirasi publik untuk segera mengakhiri perang tersebut.
DPR AS Loloskan RUU Penghentian Perang
Merespons dinamika ini, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS pada hari Rabu kemarin telah mengesahkan sebuah rancangan undang-undang (RUU) yang bertujuan untuk memaksa Presiden Donald Trump menghentikan perang melawan Iran.
RUU tersebut disahkan dengan suara tipis 215-208, yang di mana empat anggota Fraksi Partai Republik, yakni, Thomas Massie, Brian Fitzpatrick, Tom Barrett, dan Warren Davidson bergabung dengan semua anggota Fraksi Partai Demokrat untuk mendukung undang-undang tersebut.
Meskipun sebagian besar bersifat simbolis di tengah perselisihan hukum yang sedang berlangsung mengenai sifat mengikatnya, pemungutan suara tersebut menggarisbawahi keretakan yang semakin lebar dalam sistem politik Amerika terkait perang melawan Iran.
Di sisi lain, pihak Iran berulang kali menekankan komitmennya terhadap perdamaian dan stabilitas regional, sembari menyatakan komitmen mereka dalam membela kedaulatan negara dan hak untuk mempertahankan diri dari segala bentuk serangan AS-Israel.