x

Harga Emas Dunia Terus Melemah, Pasar Mulai Reda Soal Konflik AS-Iran

waktu baca 2 menit
Kamis, 28 Mei 2026 07:25 41 Afrizal Ilmi

TODAYNEWS.ID — Harga emas dunia kembali mengalami tekanan seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Pelaku pasar mulai mengurangi minat terhadap aset safe haven setelah tensi geopolitik dinilai sedikit membaik.

Berdasarkan data Refinitiv, harga emas pada perdagangan Rabu (27/5/2026) ditutup di level US$4.457,03 per troy ons. Angka tersebut turun 1,09 persen dan melanjutkan pelemahan sehari sebelumnya yang terkoreksi 1,4 persen.

Tekanan terhadap emas masih berlanjut pada perdagangan Kamis pagi (28/5/2026). Hingga pukul 06.26 WIB, harga emas berada di posisi US$4.451,88 per troy ons atau melemah 0,12 persen.

Penurunan harga emas terjadi meski dolar AS dan harga minyak dunia sama-sama melemah. Kondisi itu menunjukkan pelaku pasar belum sepenuhnya kembali memburu emas sebagai aset lindung nilai.

Sentimen pasar mulai membaik setelah perkembangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran terus berjalan. Meski sebelumnya sempat muncul ketegangan baru, pasar melihat peluang konflik besar dapat dihindari.

Pemerintah Iran sebelumnya menuding Washington melakukan pelanggaran serius terhadap gencatan senjata. Tuduhan itu muncul setelah pasukan AS melakukan serangan defensif yang menargetkan situs rudal dan kapal di sekitar Selat Hormuz pada awal pekan ini.

Namun, pejabat Garda Revolusi Iran pada Rabu menyatakan peluang perang baru dengan Amerika Serikat relatif kecil. Iran tetap menegaskan siap memberikan respons apabila kembali mendapat serangan.

Pernyataan tersebut ikut meredakan kekhawatiran investor terhadap potensi eskalasi konflik di Timur Tengah. Harapan tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran juga membuka peluang normalisasi aktivitas di Selat Hormuz.

Di sisi lain, harga emas masih mendapat tekanan dari kekhawatiran inflasi global. Pasar menilai harga energi yang tetap tinggi berpotensi mempertahankan tekanan inflasi dalam jangka pendek.

Kondisi tersebut membuat bank sentral utama dunia, termasuk Federal Reserve, diperkirakan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Ekspektasi suku bunga tinggi menjadi sentimen negatif bagi emas.

Sebagai aset tanpa imbal hasil, emas cenderung kurang diminati ketika suku bunga dan imbal hasil obligasi berada di level tinggi. Situasi itu membuat investor lebih selektif menempatkan dana mereka.

Selain itu, ekonomi Amerika Serikat juga masih menunjukkan pertumbuhan yang cukup solid. Inflasi di negara tersebut juga belum turun secara signifikan sehingga memperkuat pandangan bahwa The Fed belum akan terburu-buru memangkas suku bunga.

Pasar kini menantikan rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures atau PCE AS pada Kamis waktu setempat. Data tersebut diperkirakan menjadi petunjuk penting untuk membaca arah inflasi dan kebijakan suku bunga The Fed dalam beberapa waktu ke depan.

 

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

20 hours ago
4 days ago
4 days ago
4 days ago
6 days ago
7 days ago

LAINNYA
x
x
domain