x

Prabowo Heran Ekonomi RI Tumbuh 35 Persen Tapi Kemiskinan Naik

waktu baca 3 menit
Rabu, 20 Mei 2026 19:48 23 Afrizal Ilmi

TODAYNEWS.ID — Presiden RI Prabowo Subianto menyoroti kondisi ekonomi Indonesia yang dinilai tidak sejalan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir belum mampu menekan angka kemiskinan maupun menjaga kekuatan kelas menengah.

Hal itu disampaikan Prabowo saat menyampaikan pidato Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN 2027 dalam rapat paripurna DPR RI di Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Ia menilai ada persoalan mendasar dalam sistem ekonomi nasional.

Prabowo menjelaskan ekonomi Indonesia selama tujuh tahun terakhir tumbuh rata-rata sekitar 5 persen per tahun. Jika diakumulasikan, pertumbuhan tersebut disebut mencapai sekitar 35 persen.

Namun, menurutnya, pertumbuhan ekonomi itu tidak tercermin pada kondisi sosial masyarakat. Ia mempertanyakan mengapa angka kemiskinan justru meningkat dan kelas menengah mengalami penurunan.

“Saudara-saudara sekalian, pertumbuhan kita dalam 7 tahun terakhir memang baik, 5% tiap tahun. Selama 7 tahun, kali 5% pertumbuhan kita 35%. Harusnya kita tambah kaya 35%. Tapi apa yang terjadi?” kata Prabowo.

Prabowo mengaku terkejut setelah menerima sejumlah data ekonomi beberapa minggu setelah menjabat sebagai presiden. Ia bahkan menyebut kondisi tersebut membuat dirinya terpukul.

“Saya merasa setelah saya terima data-data ini, beberapa minggu setelah saya jadi presiden, saya merasa seolah saya dipukul di ulu hati saya,” ujarnya.

Dalam pidatonya, Prabowo menyebut jumlah masyarakat miskin justru mengalami peningkatan di tengah pertumbuhan ekonomi nasional. Ia juga menyoroti penurunan kelompok kelas menengah dalam beberapa tahun terakhir.

“Saudara-saudara sekalian, 7 tahun kali 5%, 35% ekonomi kita tumbuh. Tapi rakyat kita yang miskin tambah dari 4,61% naik dari 4,9%. 8% naik. 3% naik. Yang kelas menengah turun,” lanjutnya.

Prabowo mengatakan kondisi tersebut tidak bisa dijelaskan secara normatif semata. Menurut dia, persoalan ekonomi nasional harus dijawab menggunakan pendekatan ilmiah dan matematis.

Ia mengaku telah meminta pandangan dari berbagai pihak mulai dari partai politik, organisasi masyarakat, hingga para akademisi dan guru besar. Prabowo ingin mengetahui penyebab pertumbuhan ekonomi tidak berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat.

“Saya bertanya kepada semua partai politik, semua ormas. Saya bertanya kepada semua pakar-pakar dan semua guru besar. Bagaimana bisa pertumbuhan 35% tapi kelas menengah menurun. Kemiskinan meningkat,” ucap Prabowo.

Menurutnya, salah satu kemungkinan penyebab kondisi tersebut adalah arah sistem ekonomi nasional yang tidak berjalan pada jalur yang tepat. Ia menilai Indonesia perlu melakukan evaluasi terhadap kebijakan ekonomi yang diterapkan selama ini.

“Jawaban harus ilmiah, jawaban harus matematis. Dan menurut saya, jawabannya adalah bahwa kemungkinan besar, sistem perekonomian yang kita jalankan berada pada trayektori yang tidak tepat,” katanya.

Prabowo juga membandingkan kondisi Indonesia dengan sejumlah negara berkembang lain seperti India, Meksiko, dan Filipina. Ia menilai terdapat perbedaan sistemik yang harus dipelajari agar Indonesia mampu keluar dari persoalan ekonomi saat ini.

“Mungkin perbedaan kita dengan negara-negara seperti Meksiko, India, Filipina dan lain sebagainya, adalah perbedaan sistemik,” tutur Prabowo.

Ia menegaskan pemerintah harus melihat kondisi tersebut berdasarkan fakta di lapangan. Menurut Prabowo, Indonesia tidak akan menjadi negara makmur apabila pola ekonomi yang sama terus dipertahankan dalam jangka panjang.

“Fakta kalau kita teruskan yang seperti ini, kalau kita teruskan sistem seperti ini untuk sekian tahun lagi, saya yakin bahwa tidak mungkin kita jadi bangsa yang makmur,” tutupnya.

 

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

15 hours ago
2 days ago
2 days ago
3 days ago
1 week ago
1 week ago

LAINNYA
x
x