x

Rupiah Melemah, INDEF Berikan Rekomendasi kepada Pelaku Industri

waktu baca 2 menit
Selasa, 19 Mei 2026 17:26 24 Afrizal Ilmi

TODAYNEWS.ID — Institute for Development of Economics and Finance atau INDEF memberikan sejumlah rekomendasi kepada dunia industri untuk menghadapi tekanan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Langkah mitigasi dinilai penting agar dampak depresiasi rupiah tidak semakin membebani sektor usaha nasional.

Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari Selasa, 19 Mei 2026 melemah ke angka Rp 17.685 per Dolar AS saat pembukaan perdagangan hari ini, Selasa, 19 Mei 2026 yang sebelumnya di level Rp17.597 per dolar AS.

Direktur Eksekutif INDEF, Esther Sri Astuti, mengatakan pelemahan rupiah memberikan tekanan besar terhadap industri nasional. Menurutnya, sektor manufaktur menjadi salah satu yang paling terdampak.

Esther menjelaskan industri manufaktur masih sangat bergantung pada bahan baku impor. Kondisi itu membuat biaya produksi meningkat ketika nilai tukar rupiah terus tertekan terhadap dolar AS.

Ia menilai depresiasi rupiah dapat memicu berbagai dampak lanjutan terhadap dunia usaha. Tekanan tersebut berpotensi memengaruhi pasar tenaga kerja dan daya tahan industri.

“Kondisi ini berimbas langsung pada pasar kerja melalui pembengkakan biaya produksi, kenaikan inflasi impor (imported inflation), ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK), serta turunnya serapan tenaga kerja akibat terhambatnya ekspansi usaha,” kata Esther.

Untuk mengurangi risiko tersebut, Esther meminta perusahaan memperkuat penggunaan instrumen lindung nilai atau hedging. Strategi itu dinilai penting untuk melindungi arus kas perusahaan dari fluktuasi nilai tukar mata uang asing.

Menurut Esther, langkah hedging dapat membantu industri menjaga stabilitas keuangan di tengah gejolak kurs. Perusahaan juga dinilai perlu lebih siap menghadapi ketidakpastian pasar global.

Selain hedging, INDEF juga menyarankan perusahaan mulai mencari alternatif pemasok bahan baku dari dalam negeri. Langkah itu dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Meski demikian, Esther mengakui upaya mencari pemasok lokal bukan hal mudah. Dunia industri masih menghadapi tantangan terkait kualitas, kapasitas produksi, hingga rantai pasok domestik.

“Rekomendasi selanjutnya adalah efisiensi dan pengendalian biaya operasional. Pelaku usaha melakukan efisiensi (cost cutting) seperti merasionalisasi belanja modal (capex) dan mengoptimalkan modal kerja tanpa mengorbankan kualitas,” ujar Esther.

INDEF juga mendorong pelaku usaha mulai memanfaatkan mekanisme Local Currency Settlement atau LCS dalam transaksi perdagangan internasional. Skema tersebut dinilai dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam aktivitas bisnis lintas negara.

“Semakin banyak perusahaan yang mencoba melakukan pembayaran perdagangan internasional dengan mekanisme Local Currency Settlement atau LCS untuk mengurangi dominasi dan ketergantungan terhadap dolar AS,” kata Esther.

 

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

21 hours ago
1 day ago
2 days ago
6 days ago
1 week ago
1 week ago

LAINNYA
x
x