Ilustrasi: Presiden AS, Donald Trump pusing memikirkan langkah untuk menghancurkan Iran.(Gemini AI) TODAYNEWS.ID – Republik Islam Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengatakan bahwa Presiden AS Donald Trump kini menghadapi pilihan yang sangat terbatas antara operasi militer yang mustahil dengan melawan Iran atau melalui kesepakatan buruk.
Hal itu ditegaskan IRGC dalam sebuah unggahan di X pada hari Minggu (3/5/2026) seperti dilaporkan Pess TV, setelah Iran mengajukan proposal komprehensif yang bertujuan untuk mengakhiri secara permanen perang agresi ilegal AS-Israel terhadap Republik Islam.
Dengan usulan tersebut, Iran mengembalikan bola ke tangan Trump, yang negaranya sedang mencari cara untuk menyelamatkan muka dan keluar dari rawa perang yang telah menjebaknya.
“Iran menetapkan tenggat waktu blokade bagi Pentagon; China, Rusia, dan Eropa mengubah sikap terhadap Washington; surat pasif Trump kepada Kongres; penerimaan persyaratan negosiasi Iran; hanya ada satu cara untuk menafsirkan ini,” tulis IRGC.
“Trump harus memilih antara ‘operasi militer yang mustahil atau kesepakatan buruk dengan Republik Islam Iran’. Ruang lingkup pengambilan keputusan AS semakin menyempit,” tegas IRGC.
Adapun saat ini, dalam unggahan terbaru IRGC di X pada hari Senin (4/5/2026), Iran menuduh AS melanggar gencatan senjata dengan rencana pengawalan Selat Hormuz, dan militernya siap untuk menyerang setiap kapal tangker yang dikawal oleh angkatan laut AS.
“Iran memperingatkan akan menyerang setiap kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz dengan rudal,” tulis IRGC memperingatkan.
Seperti diketahui, pada tanggal 8 April, atau tepatnya 40 hari setelah perang dimulai pada 28 Februari, gencatan senjata sementara yang dimediasi oleh Islamabad mulai berlaku, tetapi putaran pertama negosiasi Teheran-Washington gagal mencapai kesepakatan.
Trump secara sepihak memperpanjang gencatan senjata, tetapi memberlakukan “blokade angkatan laut” yang tidak manusiawi terhadap Iran.
Teheran menahan diri untuk tidak berkomitmen pada putaran kedua pembicaraan, dengan pihak berwenang menyebutkan tuntutan Washington yang berlebihan dan pembajakan terhadap kapal-kapal Iran sebagai dua hambatan utama untuk mengakhiri perang.
Adapun Selat Hormuz sampai kini masih terus diblokir oleh Iran, bagi kapal tanker yang berafiliasi dengan musuh, dan mereka yang bekerja sama dengan AS-Israel.