Ilustrasi Blokade Angkatan Laut AS terhadap kapal-kapal Iran. TODAYNEWS.ID – Komando militer pusat Iran memperingatkan bahwa tondak blokade, pembajakan, dan perampokan yang terus dilakukan oleh Angkatan Laut Amerika di kawasan akan memicu respons keras dari Angkatan Bersenjata Iran.
Hal itu ditegaskan oleh Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya dalam sebuah pernyataannya pada hari Sabtu (25/4/2026) sebagaimana melansir laporan kantor berita Iran, Press TV.
“Jika militer AS yang agresif terus melakukan blokade, pembajakan, dan perampokan maritim di wilayah tersebut, mereka dapat yakin bahwa mereka akan menghadapi reaksi dari angkatan bersenjata Iran yang kuat,” kata pusat komando militer Iran itu.
Markas besar tersebut menekankan bahwa militer Iran memiliki “kekuatan dan kesiapan yang lebih besar” daripada sebelumnya untuk mempertahankan kedaulatan negara, integritas wilayah, dan kepentingan nasional.
Hal itu mengingatkan Washington bahwa sebagian dari militer AS telah mengalami kekuatan dan kemampuan ofensif Iran selama agresi AS-Israel terbaru terhadap Iran, yang dimulai pada 28 Februari.
Pernyataan tersebut selanjutnya menegaskan tekad negara itu untuk memantau pergerakan musuh di kawasan tersebut sambil mempertahankan kendali penuh atas Selat Hormuz yang strategis.
“Kami siap dan bertekad untuk menimbulkan kerugian yang lebih besar lagi pada agresor Zionis-Amerika jika terjadi pelanggaran baru,” tambah pernyataan itu.
Sebagaimana diberitakan Press TV, ketegangan meningkat terkait apa yang disebut blokade angkatan laut yang diberlakukan AS terhadap pelabuhan dan kapal Iran, serta upaya Amerika untuk melakukan operasi penyapuan ranjau di Selat Hormuz.
Para pejabat Iran mengatakan blokade tersebut melanggar hukum dan merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata dua tahap yang mulai berlaku pada 8 April dan kembali diperpanjang secara sepihak oleh Presiden AS Donald Trump beberapa jam sebelum masa berlakunya berakhir pada 22 April.
Iran menyatakan tidak akan menerima perintah atau syarat yang dipaksakan oleh Amerika Serikat dan tidak akan bernegosiasi di bawah bayang-bayang ancaman.
Presiden Masound Pezeshkian mengatakan pekan ini bahwa blokade ilegal dan pelanggaran komitmen oleh AS adalah hambatan utama dalam menghidupkan kembali pembicaraan dengan Washington yang bertujuan untuk mengakhiri perang.