x

Kemendag: Surplus Pasokan Picu Harga Biji Kakao Turun

waktu baca 2 menit
Rabu, 1 Apr 2026 11:30 21 Azis Arriadh

TODAYNEWS.ID – Kementerian Perdagangan (Kemendag) melaporkan bahwa menyebut harga referensi (HR) biji kakao pada April 2026 mengalami penurunan cukup signifikan. Kondisi ini terjadi akibat adanya surplus pasokan yang tidak diimbangi dengan peningkatan permintaan di pasar global.

HR biji kakao untuk periode April 2026 ditetapkan sebesar 3.190,63 dolar AS per MT. Angka tersebut turun sebesar 856,82 dolar AS atau 21,17 persen dibandingkan periode Maret 2026. Penurunan ini turut memengaruhi Harga Patokan Ekspor (HPE) biji kakao yang kini berada di level 2.886 dolar AS per MT, atau turun 836 dolar AS (22,46 persen) dari bulan sebelumnya.

“Penurunan HR dan HPE biji kakao dipengaruhi peningkatan suplai seiring dengan membaiknya produksi di negara produsen utama, yang tidak diimbangi dengan peningkatan permintaan,” ujar Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Tommy Andana dalam keterangan di Jakarta, Rabu.

Sementara itu, bea keluar (BK) biji kakao untuk periode 1–30 April 2026 tetap mengacu pada “Kolom Angka 3 Lampiran Huruf B PMK Nomor 38 Tahun 2024 jo. PMK Nomor 68 Tahun 2025”, yaitu sebesar 5 persen.

Selain itu, pungutan ekspor (PE) biji kakao pada periode yang sama juga merujuk pada “Lampiran Huruf C PMK Nomor 69 Tahun 2025 jo. PMK Nomor 9 Tahun 2026”, dengan besaran sebesar 5 persen.

Di sisi lain, beberapa komoditas lain menunjukkan tren berbeda. HPE produk kulit pada April 2026 tercatat tidak mengalami perubahan dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, komoditas getah pinus justru mengalami kenaikan, dengan harga ditetapkan sebesar 916 dolar AS per MT atau naik 13 dolar AS (1,44 persen) dari Maret 2026.

Selanjutnya, untuk produk kayu, terjadi kenaikan HPE pada beberapa jenis. Kenaikan tersebut meliputi veneer dari hutan alam maupun hutan tanaman, wooden sheet untuk packing box, serta kayu olahan dengan luas penampang 1.000–4.000 mm2 dari berbagai jenis seperti meranti, rimba campuran, eboni, hingga kayu dari hutan tanaman seperti pinus, gemelina, akasia, sengon, karet, balsa, dan eucalyptus.

Namun demikian, tidak semua jenis kayu mengalami kenaikan. HPE justru menurun untuk kayu olahan dengan luas penampang 1.000–4.000 mm2 dari jenis merbau serta sortimen lainnya dari jenis jati.

Adapun beberapa komoditas lainnya tercatat tidak mengalami perubahan. Hal ini berlaku untuk wood in chips or particle, chipwood, serta kayu olahan dengan luas penampang 1.000–4.000 mm2 dari jenis sungkai dan kayu olahan khusus jenis merbau dengan luas penampang 4.000–10.000 mm2 pada periode April 2026.

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

2 hours ago
5 hours ago
8 hours ago
18 hours ago
24 hours ago
1 day ago

LAINNYA
x
x