Pembangkit Listrik Tenaga Batu Bara Blok-I Thar di Pakistan. (Foto: Xinhua) TODAYNEWS.ID — Nilai tukar Rupiah Indonesia berada dalam tren melemah terhadap Dolar Amerika Serikat pada awal perdagangan pekan ini. Pelemahan tersebut terjadi di tengah dinamika pasar global dan pergerakan mata uang utama.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka melemah tipis pada perdagangan pagi hari. Mata uang Indonesia itu terkoreksi sekitar 0,03 persen ke level Rp16.940 per dolar AS.
Pelemahan ini melanjutkan tekanan yang terjadi pada perdagangan sebelumnya. Pada Jumat (13/3/2026), rupiah ditutup melemah sekitar 0,30 persen di posisi Rp16.935 per dolar AS.
Chairman dan Executive Director Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), Sukatmo Padmosukarso, menilai kondisi tersebut tidak sepenuhnya berdampak negatif bagi perekonomian.
Menurut Sukatmo, pelemahan rupiah justru dapat meningkatkan daya saing produk ekspor Indonesia. Hal ini terutama berlaku untuk komoditas yang sebagian besar menggunakan bahan baku lokal.
“Terutama kalau ekspor komoditas, CPO, dan kemudian batu bara itu tentu akan sangat diuntungkan dengan pelemahan rupiah,” ujar Sukatmo dalam acara Power Lunch CNBC Indonesia, Senin (16/3/2026).
Selain sektor komoditas, peluang juga terbuka bagi industri manufaktur berorientasi ekspor. Beberapa sektor yang berpotensi mendapatkan keuntungan antara lain tekstil, garmen, dan alas kaki.
Di sisi lain, tren penurunan suku bunga turut memberikan dampak positif bagi dunia usaha. Biaya produksi dinilai menjadi lebih efisien sehingga mendorong ekspansi kapasitas produksi.
Sebagaimana diketahui, Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga acuan secara bertahap. Sepanjang 2025 hingga September, suku bunga acuan dipangkas sebanyak lima kali.
Penurunan terakhir dilakukan pada September 2025 sebesar 25 basis poin. Dengan langkah tersebut, suku bunga acuan berada di level 4,75 persen.
“Suku bunga rendah ini juga berdampak pada cost of production yang lebih murah. Juga implikasi adanya investasi yang sebenarnya lebih efisien,” kata Sukatmo.
Ia menilai kebijakan suku bunga rendah membuka peluang bagi eksportir untuk memperluas kapasitas produksi. Dengan demikian, sektor ekspor dapat memanfaatkan momentum pelemahan rupiah untuk meningkatkan daya saing di pasar global.
Menurutnya, tren penurunan suku bunga dalam beberapa tahun terakhir memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk berkembang. Hal tersebut menjadi faktor penting dalam mendorong kinerja ekspor Indonesia di tengah kondisi ekonomi global yang dinamis.