x

Rezim Zionis Sembunyikan Dampak Sesungguhnya Serangan Iran di Israel

waktu baca 3 menit
Rabu, 11 Mar 2026 12:24 27 Afrizal Ilmi

TODAYNEWS.ID — Israel dilaporkan menghadapi kerugian besar di tengah konflik militernya dengan Iran yang berlangsung sejak akhir Februari. Serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat ke Iran dimulai pada 28 Februari dan memicu balasan dari Teheran.

Pemerintah Israel mengklaim berhasil menghancurkan sejumlah situs strategis Iran dalam operasi tersebut. Israel juga menyatakan serangan itu menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Namun di sisi lain, Israel juga menghadapi dampak signifikan dari serangan balasan Iran. Kerugian tersebut mencakup korban jiwa serta biaya perang yang sangat besar setiap harinya.

Beberapa hari setelah Amerika Serikat meluncurkan operasi militer besar terhadap Iran, sorotan muncul terhadap biaya perang yang harus ditanggung publik. Biaya tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp15 triliun per hari bagi pembayar pajak Amerika Serikat.

Dari sisi teknologi militer, Iran disebut menggunakan sistem serangan yang relatif lebih murah dibandingkan Israel dan Amerika Serikat. Negara tersebut mengandalkan drone tempur jenis Shahed 136.

Drone Shahed 136 diketahui memiliki harga yang jauh lebih rendah dibandingkan sistem pertahanan udara yang digunakan lawannya. Satu unit drone tersebut diperkirakan bernilai sekitar US$20.000 atau sekitar Rp338 juta.

Laman Scientific American menyebut harga Shahed 136 diperkirakan berada pada kisaran US$20.000 hingga US$50.000. Nilai tersebut setara dengan sekitar Rp338 juta hingga Rp845 juta.

Sebaliknya, biaya besar justru muncul dari penggunaan sistem rudal pencegat untuk menghadang serangan tersebut. Sistem pertahanan udara Arrow-3 dilaporkan berharga sekitar US$3 juta per unit atau sekitar Rp50 miliar.

Tingginya biaya rudal pencegat membuat serangan besar-besaran Iran menguras sumber daya militer Israel dan Amerika Serikat. Setiap peluncuran rudal pertahanan membutuhkan biaya yang jauh lebih besar dibandingkan drone penyerang.

Situasi di Israel juga digambarkan oleh jurnalis India Praj Mohan Singh yang baru saja berkunjung ke negara tersebut. Ia menyebut otoritas Israel membatasi peliputan media mengenai dampak serangan Iran.

Singh mengklaim wartawan tidak diizinkan mengakses rumah sakit yang menampung jenazah korban. Ia juga mengatakan jurnalis tidak diperbolehkan merekam lokasi kehancuran akibat serangan.

Dalam laporan yang dikutip oleh Al Jazeera, Singh menggambarkan kontrol ketat terhadap dokumentasi serangan rudal Iran. Ia menyebut pemerintah Israel mengendalikan informasi yang dapat diakses media.

“Pemerintah (Israel) tidak akan memberi tahu apa pun kepada Anda. Anda tidak bisa mengunjungi rumah sakit yang menampung jenazah, dan ketika sebuah insiden terjadi, kami bahkan tidak tahu di mana lokasinya,” katanya.

Ia juga menyatakan adanya perbedaan antara pernyataan resmi pemerintah dan kondisi yang dilihat di lapangan. Singh menyebut beberapa rudal Iran menghantam wilayah Israel tanpa adanya sirene peringatan.

“Rudal Iran terkadang menghantam tanpa sirene peringatan,” ujarnya.

Menurut Singh, beberapa warga sipil bahkan meninggal di dalam tempat perlindungan yang seharusnya aman. Ia juga menegaskan bahwa wartawan tidak diizinkan mendokumentasikan kerusakan akibat serangan rudal Iran.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan Israel menyatakan 13 orang tewas akibat serangan Iran sejak 28 Februari. Sebanyak 1.929 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.

Laporan dari Palestinian Chronicle menyebut kesaksian Singh memicu diskusi luas di media sosial. Sejumlah pengguna menilai pernyataan tersebut sebagai bukti adanya sensor militer yang ketat.

Sebagian pengamat menilai pembatasan informasi dilakukan untuk mengendalikan persepsi publik selama konflik berlangsung. Namun pihak lain menilai langkah tersebut merupakan strategi komunikasi di masa perang.

Perdebatan semakin meningkat setelah muncul laporan dari NBC News yang menyiarkan rekaman rudal Iran menghantam Tel Aviv. Meski demikian, lokasi pasti dan tingkat kerusakan tidak diungkapkan kepada publik.

Beberapa pengamat menilai minimnya detail tersebut sejalan dengan aturan sensor militer Israel dalam situasi perang. Aturan tersebut disebut membatasi informasi mengenai lokasi serangan serta tingkat kerusakan yang dapat dilaporkan media.

 

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

20 hours ago
1 day ago
2 days ago
3 days ago
3 days ago
4 days ago

LAINNYA
x
x