Ilustrasi pemilahan sampah organik rumah tangga berupa sisa sayuran dan kulit buah sebelum diolah kembali menjadi kompos atau pakan maggot sebagai bagian dari pengelolaan sampah terintegrasi. (Foto: Istimewa) TODAYNEWS.ID – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian menegaskan bahwa pengelolaan sampah terintegrasi tidak bisa dilakukan secara parsial. Menurutnya, penanganan sampah harus dirancang dari hulu hingga hilir agar persoalan nasional ini dapat diatasi secara sistematis dan berkelanjutan.
Dalam paparannya, Mendagri mengingatkan bahwa Indonesia kini masuk lima besar negara penghasil sampah terbesar di dunia, bahkan menempati posisi ketiga sebagai penyumbang sampah plastik ke laut. Kondisi ini, kata dia, seharusnya menjadi momentum evaluasi bersama seluruh pihak.
“Saya hanya mau nambahkan sedikit beberapa data saja untuk betul-betul acara ini tidak seremonial tapi menjadi wake up call yang kesekian kali,” kata Mendagri dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
Pernyataan tersebut disampaikannya dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengelolaan Sampah Tahun 2026 bertema Kolaborasi untuk Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) di Jakarta.
Ia menegaskan, persoalan sampah bukan sekadar isu kebersihan. Lebih dari itu, dampaknya menyentuh aspek kesehatan masyarakat dan bahkan memiliki nilai ekonomi apabila dikelola dengan tepat.
Mendagri memaparkan bahwa strategi pengelolaan sampah dapat dibagi menjadi tiga pendekatan utama, yakni berbasis hulu, berbasis hilir, dan integratif. Pendekatan hulu berfokus pada pengurangan sampah sejak dari sumbernya, mulai dari rumah tangga hingga tingkat desa.
“Nah yang berbasis hulu ini adalah berbasis lingkungan, rumah tangga. Jadi setiap rumah tangga bergerak, setiap lingkungan bergerak, RT, RW, desa misalnya, untuk mereka udah dari awal melakukan reduce, mengurangi, mengurangi sampah dan kemudian mengolah sampah di lingkungan masing-masing,” terangnya.
Sejumlah daerah seperti Banyuwangi, Klungkung, dan Subang disebut berhasil menerapkan pengelolaan sampah berbasis komunitas. Melalui pemilahan sejak awal, daerah-daerah tersebut mampu menekan volume sampah yang masuk ke tempat pemrosesan akhir (TPA).
Selain pengurangan dari sumber, Mendagri juga menyoroti potensi ekonomi dari pengolahan sampah organik melalui budidaya maggot atau larva lalat Black Soldier Fly (BSF). Inovasi ini dinilai mampu mengurangi volume sampah sekaligus menghasilkan produk bernilai tambah, seperti pakan ternak dan pupuk, yang selaras dengan prinsip ekonomi sirkular.
Di sisi hilir, ia menekankan pentingnya penguatan sistem pengangkutan serta pengolahan sampah, khususnya di wilayah perkotaan dengan volume sampah yang tinggi. Pemanfaatan teknologi dinilai dapat menjadi solusi efektif, asalkan didukung tata kelola serta pengawasan yang konsisten.
Melalui Rakornas ini, Mendagri berharap pengelolaan sampah tidak lagi bersifat reaktif. Sebaliknya, penanganan harus menjadi gerakan kolaboratif yang terstruktur dan berkelanjutan di seluruh daerah.
“Kotanya bersih, karena pasukan sampahnya yang bergerak cepat. Sehingga pada waktu pagi hari enggak ada sampah,” tuturnya.