x

Pidato Prabowo di WEF Dinilai Sebagai Penegasan Arah Bangsa

waktu baca 3 menit
Selasa, 27 Jan 2026 09:43 31 Dhanis Iswara

TODAYNEWS.ID – Anggota Komisi II DPR RI, Azis Subekti, mengatakan bahwa Pidato Presiden Prabowo Subianto di World Economic Forum (WEF) 2026 bukan sekadar penampilan simbolik di panEgung global, melainkan hendak menegaskan arah bangsa Indonesia.

“Pidato Presiden Prabowo Subianto di World Economic Forum (WEF) patut dipahami sebagai penegasan arah, bukan sekadar penampilan simbolik di panggung global,” kata Azis dalam keterangan yang diterima, Selasa (27/1/2026).

Menurutnya di tengah situasi dunia yang kian gaduh oleh konflik geopolitik, fragmentasi ekonomi, dan krisis kepercayaan, pidato Presiden untuk berbicara tentang stabilitas, perdamaian, dan disiplin ekonomi mencerminkan sikap rasional yang semakin langka.

“Mereka mendengar, mencatat, lalu menunggu. Bukan menunggu pidato lanjutan, melainkan menunggu apakah arah yang dinyatakan benar-benar diterjemahkan menjadi kerja yang terasa. Sikap ini bukan sinisme, melainkan bentuk kedewasaan politik,” ujarnya.

Dalam konteks inilah kata Azis, pidato Davos dinilai menemukan relevansinya. “Ia tidak menawarkan keajaiban, tetapi menegaskan fondasi: stabilitas sebagai prasyarat pertumbuhan, disiplin fiskal sebagai basis kepercayaan, dan ekonomi yang berpijak pada kepentingan rakyat,” kata Azis.

Menurutnya Prabowo telah memberikan pesan penting bukan hanya bagi audiens global, tetapi juga bagi publik domestik yang di masa sebelumnya lebih sering menyaksikan jarak antara janji dan hasil.

“Pesan ini penting, bukan hanya bagi audiens global, tetapi juga bagi publik domestik yang di masa sebelumnya lebih sering menyaksikan jarak antara janji dan hasil,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Legislator Fraksi Gerindra itu menilai bahwa ketegasan pesan yang disampaikan dalam pidato Prabowo tidak lahir dari ruang hampa. Menurutnya banyak pernyataan Prabowo yang semula disangsikan justru perlahan menemukan bentuknya dalam tindakan.

Seperti penertiban kawasan hutan yang selama bertahun-tahun dibiarkan, pencabutan izin pemanfaatan hutan bagi pihak yang lalai, hingga pencabutan bahkan perampasan tambang yang melanggar hukum tanpa pandang bulu. Termasuk langkah penegakan hukum terhadap koruptor yang sebelumnya seolah kebal.

“Sebelum berbicara tegas di forum internasional, bukti-bukti itu telah lebih dulu hadir: tidak riuh, tidak selalu disorot, tetapi bergerak pelan dan pasti. Kesenyapan kerja inilah yang kerap tidak terbaca, padahal justru menjadi fondasi legitimasi,” sambungnya.

Karena itu, Azis menilai bahwa pidato itu seharusnya dipahami sebagai kelanjutan dari proses pembuktian kinerja, bukan sekadar awalnya. Legitimasi hari ini, menurut dia, tumbuh dari kesinambungan antara kata dan tindakan.

“Ketika kerja sama internasional berujung pada investasi yang benar-benar berjalan, ketika lapangan kerja tercipta, ketika ketahanan pangan dan energi diperkuat, maka arah yang disampaikan di Davos memperoleh maknanya yang nyata,” tuturnya.

Menutup keterangannya, Azis juga menilai bahwa pidato Prabowo di Davos menandai pilihan strategis Indonesia yang memilih stabilitas daripada kegaduhan, kerja nyata daripada retorika, dan pembuktian daripada pembelaan diri.

“Di sanalah pidato itu menemukan makna penuhnya: bukan sebagai momen, tetapi sebagai kompas,” demikian Azis.

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

7 hours ago
1 day ago
1 day ago
3 days ago

LAINNYA
x
x