Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (5/5/2026). (Foto: ANTARA) TODAYNEWS.ID – Rupiah ditutup menguat pada perdagangan hari ini ke level Rp17.387 per dolar AS, naik 37 poin atau 0,21 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.424 per dolar AS.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menilai penguatan rupiah terjadi karena fundamental ekonomi Indonesia masih tergolong kuat dan stabil.
“Gubernur Perry Warjiyo menyampaikan bahwa rupiah saat ini berada dalam kondisi undervalued dan memiliki potensi untuk menguat, didukung oleh pertumbuhan ekonomi sekitar 5,61 persen, inflasi yang rendah, pertumbuhan kredit, serta cadangan devisa yang kuat,” ungkapnya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
Menurut dia, tekanan terhadap rupiah dalam beberapa hari terakhir hanya bersifat sementara. Kondisi tersebut dipicu tingginya permintaan dolar AS untuk kebutuhan impor, pembayaran utang, repatriasi dividen, arus modal keluar, hingga sikap hati-hati para investor di pasar keuangan.
Namun demikian, faktor domestik dinilai bukan menjadi sumber utama pelemahan rupiah, meskipun tetap memberikan tekanan terhadap mata uang nasional tersebut.
Selain faktor domestik, penguatan rupiah juga dipengaruhi sentimen eksternal. Di antaranya penguatan dolar AS akibat suku bunga global yang masih tinggi, kenaikan imbal hasil US Treasury sekitar 4,47 persen, hingga meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu sentimen risk-off di pasar global. Harga minyak dunia yang masih tinggi turut meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor.
“Kombinasi ini membuat mata uang emerging markets, termasuk rupiah, berada dalam tekanan,” ujar Amru.
Sementara itu, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR Bank Indonesia) pada hari ini juga tercatat menguat ke level Rp17.405 per dolar AS dibandingkan sebelumnya Rp17.425 per dolar AS.