Laporan: Akbar Budi Prasetia
Presiden Prabowo Subianto menerima laporan Menteri dan Wakil Menteri Haji dan Umrah di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, pada Senin (28/9/2026). Foto: BPMI Setpres/Muchlis Jr TODAYNEWS.ID – Presiden Prabowo Subianto meminta formulasi Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) tetap memperhatikan kemampuan jemaah. Hal itu disampaikan di tengah perubahan kondisi ekonomi akibat situasi geopolitik di Timur Tengah.
Arahan tersebut disampaikan Prabowo dalam rapat terbatas bersama Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (28/9/2026).
Irfan mengatakan ada sejumlah komponen biaya haji yang perlu disesuaikan. Namun, Prabowo meminta perubahan tersebut tidak terlalu membebani jemaah.
“Memang ada beberapa angka-angka yang harus berubah, tapi pada prinsipnya, Presiden mengatakan jangan sampai memberatkan kepada jemaah,” ujar Irfan dalam keterangan persnya usai mengikuti rapat.
Dalam rapat tersebut, kata Irfan, Presiden juga memberikan arahan terkait komposisi BPIH dan nilai manfaat dengan mengusulkan formulasi sekitar 52:48.
“Salah satunya adalah bahwa komposisi antara BPIH, yaitu biaya penyelenggaraan ibadah haji dan nilai manfaat, tentu akan kita formulasikan kembali. Presiden menyarankan sekitar 52 banding 48, sehingga dengan angka itu tidak terlalu memberatkan kepada jemaah,” kata Irfan.
Menurut Irfan, penyesuaian biaya haji tidak terlepas dari perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang turut berdampak terhadap kondisi ekonomi.
“Seperti kita tahu semua, ada banyak perubahan terkait dengan situasi geopolitik di Timur Tengah yang salah satunya berakibat, berefek ke ekonomi,” ujarnya.
Meski demikian, lanjut Irfan, pemerintah masih membahas formulasi BPIH. Ia mengatakan pemerintah akan mencari skema yang tetap menjaga keberlangsungan penyelenggaraan ibadah haji tanpa memberikan beban terlalu besar kepada jemaah.
“Karena itu kami juga mencari formulasi-formulasi bagaimana kita bisa, walaupun angkanya berbeda, tapi jemaah tidak terlalu mendapatkan beban yang cukup besar,” pungkasnya.
Editor: Azis Arriadh