Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Adisatrya Suryo Sulisto. Foto: TODAYNEWS/Dhanis TODAYNEWS.ID – Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Adisatrya Suryo Sulisto, mengingatkan pemerintah untuk memberikan perhatian serius terhadap tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang kini berada di posisi Rp 17.743 pada Rabu (20/5/2026) pagi.
Menurutnya, jika mata uang garuda terus merosot, maka hal ini berpotensi menjadi beban berat yang dapat mengancam keberlangsungan industri nasional.
“Nah, ini yang mesti kita perhatikan, rupiah tentu jangan terus merosot nilainya. Sehingga menjadi beban untuk industri kita,” ujar pria yang akrab disapa Adi, pada Rabu (20/5/2026).
Ia menekankan bahwa stabilitas sektor industri sangat krusial bagi perekonomian. Jika sektor ini tumbang, maka target-target ekonomi lainnya, termasuk kinerja ekspor, tidak akan berjalan maksimal.
“Kalau industri kita collapse (kolaps), ya nggak ada artinya siapa yang mau ekspor kan begitu. Jadi ya kami harapkan ini bisa segera ditangani oleh pemerintah,” tegasnya.
Dilema Ekspor dan Ketergantungan Bahan Baku Impor
Meski begitu, Adi tidak menampik bahwa dari sisi perdagangan internasional, melemahnya nilai kurs secara teori bisa membuat harga produk lokal menjadi lebih kompetitif di pasar global, karena harganya yang lebih murah bagi pembeli asing.
“Jadi namanya dagang ini juga tergantung forex ya, nilai kurs juga. Dengan nilai kurs rupiah sekarang lagi lemah ya. Sebenarnya kalau untuk ekspor jadinya barang kita kan lebih murah untuk mereka,” urai Adi.
“Satu dolar Amerika atau satu dolar Kanada itu dapatnya lebih banyak rupiah. Jadi barang kita kan lebih murah untuk mereka,” tambahnya.
Namun, ia menggarisbawahi bahwa keuntungan ekspor tersebut sering kali tidak sebanding dengan lonjakan biaya produksi di dalam negeri. Pasalnya, struktur manufaktur Indonesia saat ini masih sangat bergantung pada komponen dan bahan baku dari luar negeri.
“Produk industri kita kan juga masih banyak yang bergantung kepada bahan baku impor. Sehingga nilai untuk produksinya juga lebih mahal jadinya di sini,” jelasnya menyoroti dilema yang dihadapi para pelaku usaha.
Desak Langkah Cepat Pemerintah
Melihat situasi yang berkembang dalam beberapa waktu terakhir, Komisi VI DPR RI mendesak pemerintah dan otoritas terkait untuk segera mengambil langkah taktis guna menstabilkan serta memperkuat kembali posisi rupiah.
“Dalam beberapa minggu bulan terakhir ini ya kami berharap pemerintah segera mengambil langkah-langkah untuk kembali menahan pelemahan rupiah ini atau bahkan harusnya memperkuat,” pungkas Adi.
Pihaknya berharap intervensi yang tepat dari pemerintah dapat memutar kembali roda ekonomi ke arah yang lebih positif, sekaligus memastikan pemulihan ekonomi nasional berjalan lebih cepat.
Komisi VI kata Adi, juga berkomitmen untuk terus memantau perkembangan situasi ini di lapangan. “Ya mudah-mudahan recovery di ekonomi kita bisa lebih cepat lagi, itu harapan kami. Tapi kami akan pantau terus,” pungkasnya.