Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Gerindra, Azis Subekti. Foto: Istimewa TODAYNEWS.ID – Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Azis Subekti, mengingatkan seluruh elemen bangsa agar terus menjaga jalannya demokrasi di Indonesia agar tidak kehilangan adab.
Ia menekankan bahwa kebebasan berbicara merupakan pilar penting dalam sistem demokrasi, namun hak tersebut wajib disertai dengan tanggung jawab moral.
Menurut Azis, salah satu tantangan terbesar demokrasi modern saat ini adalah terbukanya ruang publik yang luas, namun tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas percakapan itu sendiri.
“Semakin terbuka ruang demokrasi, semakin mudah kemarahan menyamar sebagai keberanian. Semakin banyak orang mengaku memperjuangkan rakyat, semakin sedikit yang benar-benar bersedia mendengar satu sama lain,” ujar Azis dalam keterangannya, Selasa (23/6/2026).
Azis juga menyoroti fenomena ruang publik dan media sosial dalam beberapa tahun terakhir. Di satu sisi, ia mengapresiasi dinamika demokrasi yang sehat, seperti kritik dari akademisi, aktivis, mahasiswa, serta aksi demonstrasi yang berjalan sebagai fungsi pengawasan terhadap pemerintah.
Namun di sisi lain, Azis menyayangkan adanya pergeseran motif dalam menyampaikan pendapat. Ia melihat sebagian kritik kini tidak lagi bertujuan untuk memperbaiki kebijakan, melainkan hanya sebagai sarana pelampiasan amarah.
“Di media sosial, kita menyaksikan umpatan, penghinaan, tuduhan tanpa bukti, pembunuhan karakter, dan fitnah yang beredar begitu cepat,” kata Azis.
“Tidak sedikit yang menyebut pemimpin negara dengan kata-kata yang bahkan tidak layak digunakan dalam percakapan keluarga. Tidak sedikit pula yang membangun kesimpulan sebelum fakta selesai diperiksa,” lanjut Azis.
Ia menegaskan bahwa tindakan-tindakan tersebut sering kali berlindung di balik tameng kebebasan berpendapat.
“Padahal demokrasi tidak pernah identik dengan kebebasan menghina atau memfitnah. Demokrasi adalah kebebasan yang dipagari tanggung jawab moral,” tegas Azis.
Lebih lanjut, Anggota Komisi II DPR ini mengingatkan bahwa substansi dari demokrasi adalah adu gagasan dan akal sehat, bukan ajang bagi siapa yang paling vokal meluapkan kemarahan.
“Demokrasi tidak pernah dirancang untuk memberi penghargaan kepada mereka yang paling marah. Demokrasi dirancang untuk memberi ruang kepada mereka yang paling mampu menggunakan akalnya,” tambahnya.
Mengakhiri pernyataannya, Azis mengajak generasi muda dan seluruh masyarakat Indonesia untuk melakukan refleksi bersama, bahwa tugas besar bangsa hari ini bukan lagi sekadar mempertahankan sistem demokrasi agar tetap hidup, melainkan menjaga agar demokrasi tersebut tetap memiliki “jiwa” dan akhlak.
“Demokrasi tanpa akhlak akan melahirkan kebisingan, demokrasi tanpa tanggung jawab akan melahirkan permusuhan. Tetapi demokrasi yang bertemu dengan adab, ilmu, dan kebijaksanaan akan melahirkan sebuah bangsa yang cukup dewasa untuk mengoreksi dirinya sendiri tanpa harus saling menghancurkan,” pungkasnya.