TODAYNEWS.ID – Juru bicara Pusat Komando Khatam al-Anbiya Garda Revolusi Iran (IRGC), Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaghari, melontarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat (AS).
Ia menegaskan bahwa Iran akan menargetkan seluruh infrastruktur regional milik AS jika negara tersebut nekat menyerang infrastruktur domestik Iran.
“Amerika Serikat yang kriminal terus melakukan agresi dan mengganggu kawasan ini,” kata Zolfaghari dalam pernyataannya pada hari Kamis (16/7/2026).
Zolfaghari menegaskan bahwa Iran tidak akan mentoleransi intervensi pihak asing, khususnya AS, di Selat Hormuz. Baginya, kedaulatan wilayah tersebut merupakan garis merah yang tidak dapat diganggu gugat.
“Dalam keadaan apa pun dan dengan cara apa pun kami tidak akan mengizinkan Amerika, sebagai negara asing dan di luar kawasan, untuk ikut campur di Selat Hormuz. Ini adalah garis merah Iran yang tak tergoyahkan,” tegasnya.
Terkait ancaman serangan terhadap infrastruktur Iran, Zolfaghari memperingatkan bahwa Teheran siap meluncurkan balasan yang jauh lebih destruktif.
Ia mengancam akan melenyapkan seluruh infrastruktur milik AS yang berada di kawasan tersebut.
“Jika AS terus melontarkan ancaman, maka semua infrastruktur di kawasan ini akan dihancurkan di bawah pukulan baja dari angkatan bersenjata Republik Islam Iran yang kuat; sehingga tidak akan ada jejaknya yang tersisa dan seolah-olah mereka tidak pernah ada sejak awal,” tegasnya lagi.
Menutup pernyataannya, Zolfaghari memperingatkan AS dan sekutunya rezim Zionis Israel, agar tidak meremehkan kekuatan Iran.
Ia menekankan bahwa respons militer Iran tidak hanya sebatas serangan balasan yang setara, melainkan serangan yang jauh lebih unggul, luas, dan menghancurkan.
“Musuh yang bodoh itu harus tahu: Momen epik bagi kita bukanlah momen menghindar. Apa yang terjadi dari angkatan bersenjata Iran bukanlah pukulan yang setara, melainkan pukulan yang lebih unggul, pukulan yang akan lebih parah, lebih luas, dan lebih menghancurkan dari sebelumnya. Api amarah bangsa yang tidak pernah menyerah akan membakar jubah sang agresor,” pungkasnya.