x

Peringatan 20 Tahun Tsunami Pangandaran: BMKG Dorong Penguatan Budaya Siaga Bencana

waktu baca 3 menit
Jumat, 17 Jul 2026 13:11 37 Dhanis Iswara

TODAYNEWS.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjadikan peringatan 20 tahun peristiwa tsunami Pangandaran sebagai momentum refleksi untuk memperkuat ketangguhan masyarakat di wilayah pesisir.

Jika tragedi Tsunami Aceh 2004 menjadi titik awal inisiasi Sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia (Indonesia Tsunami Early Warning System/InaTEWS), maka tsunami Pangandaran dua tahun berselang menjadi tonggak krusial percepatan pembangunan sistem tersebut hingga akhirnya resmi beroperasi pada 2008.

Sejarah mencatat, pada 17 Juli 2006 pukul 15.19 WIB, gempa bumi berkekuatan M7,7 mengguncang kawasan Pangandaran dan memicu gelombang tsunami setinggi 4–8 meter.

Gelombang tersebut menyapu sepanjang 250 kilometer pesisir selatan Jawa, mulai dari Pangandaran hingga wilayah Yogyakarta.

Tragedi ini tercatat sebagai salah satu bencana paling mematikan di Indonesia setelah Tsunami Aceh 2004, dengan total 668 korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang masif.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Pascatragedi Pangandaran tersebut, BMKG menguatkan InaTEWS, yang kini bertransformasi secara signifikan melalui dukungan jaringan sensor seismograf real-time, ratusan stasiun pengukur pasang surut (tide gauge), serta sistem komputasi berkinerja tinggi.

Hal itu disampaikan Faisal saat menghadiri webinar “A 20 Years Commemoration of the 2006 Pangandaran Tsunami: Understanding The Past and Strengthening The Future Resilience”, Kamis (16/7/2026).

“Melalui inovasi modern ini, BMKG kini mampu menyiarkan informasi peringatan dini tsunami dalam waktu kurang dari tiga menit setelah gempa bumi terjadi. Selanjutnya, aksi dini harus dijaga melalui edukasi yang tiada henti, simulasi rutin, dan kolaborasi lintas sektor,” kata Faisal.

Lebih lanjut, Faisal mengingatkan bahwa kecanggihan teknologi pemantauan di hulu tidak akan mampu menyelamatkan nyawa jika terputus dari masyarakat di sektor hilir.

Pemerintah daerah dan masyarakat harus benar-benar memahami dan memanfaatkan informasi peringatan dini dari BMKG, lalu segera merespons dengan langkah-langkah dini yang tepat.

“Kesiapan dalam hitungan detik yang kritis inilah yang menjadi ujung tombak rantai keselamatan,” ujarnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menyoroti tantangan psikologis masyarakat terhadap bencana tsunami yang termasuk kategori peristiwa langka (rare events).

Karakteristik bencana yang jarang terjadi ini kerap membuat kesadaran risiko masyarakat memudar seiring berjalannya waktu. Oleh karena itu, Nelly mengajak seluruh pihak untuk menjadikan peringatan 20 tahun ini sebagai wadah kolektif untuk merawat ingatan publik.

“Kesiapsiagaan akan terwujud selama kita terus menjaga kesadaran tersebut tetap hidup. Hal ini merupakan tanggung jawab kita bersama,” tegas Nelly di hadapan para pimpinan dan peserta webinar.

Untuk mewujudkan aksi dini tersebut, BMKG secara intensif menjalin sinergi dengan BNPB, pemerintah daerah, dan kalangan akademisi melalui program-program berbasis komunitas, seperti pembentukan “Masyarakat Siaga Tsunami” (Tsunami Ready Community).

Melalui kolaborasi lintas sektor dan pemanfaatan riset terkini dari para pakar, BMKG berkomitmen untuk mengakarkan kuat budaya siaga bencana agar setiap warga pesisir mampu merespons secara mandiri dan tepat demi keselamatan generasi mendatang.

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

6 hours ago
1 day ago
1 day ago
3 days ago
3 days ago
4 days ago

LAINNYA
x
x

mancingduit

situs slot gacor