x

Dukung Gerakan Taubat Ekologis, DPR Ingatkan KLH: Jangan Hanya Slogan Seremoni

waktu baca 2 menit
Senin, 13 Jul 2026 12:20 26 Dhanis Iswara

TODAYNEWS.ID – Anggota Komisi XII DPR RI, Ateng Sutisna, menyatakan dukungannya terhadap peluncuran Gerakan Taubat Ekologis Nasional yang diinisiasi Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).

Namun, ia menegaskan agar gerakan ini tidak sekadar menjadi jargon atau kegiatan seremonial belaka.

Ateng menekankan bahwa “taubat” dalam konteks ekologi harus bermakna perubahan perilaku nyata dan tindakan konkret, bukan sekadar seremoni menanam pohon.

“Berdasarkan pengalaman, kita jangan mengulang pola lama. Banyak kegiatan penanaman berhenti sebagai proyek seremonial, sementara pohonnya tidak terawat dan masyarakat tidak memperoleh manfaatnya,” ujar Ateng, Senin (13/7/2026).

“Taubat ekologis tidak boleh berhenti sebagai slogan atau seremoni menanam pohon. Sebagaimana makna taubat itu sendiri, setelah mengakui kesalahan harus ada perubahan perilaku dan tindakan yang nyata,” tambah Ateng menegaskan.

Untuk memastikan gerakan ini berdampak, legislator Fraksi PKS itu mengusulkan tiga jalur implementasi yang harus dijalankan KLH secara bersamaan.

Pertama, membangun perubahan perilaku melalui keluarga, sekolah, pesantren, rumah ibadah, perguruan tinggi, dan komunitas.

Kedua, mempercepat pemulihan ekosistem dengan memprioritaskan rehabilitasi daerah aliran sungai kritis, mata air, kawasan pesisir, mangrove, lahan terdegradasi, hingga kawasan pascatambang.

Ketiga, mengembangkan ekonomi hijau agar kegiatan menjaga hutan, menanam bambu, merehabilitasi mangrove, mengelola sampah, mengembangkan pertanian regeneratif, dan ekonomi sirkular mampu menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan.

Sedangkan, terkait keterlibatan generasi muda, Ateng meminta pemerintah lebih dari sekadar menjadikan mereka peserta seremoni. Menurutnya, anak muda harus dilibatkan sebagai inovator, pengelola data, hingga pelaku usaha di sektor green jobs.

“Anak muda jangan hanya kita undang untuk memegang bibit dan berfoto. Berikan mereka ilmu, teknologi, data, jaringan, dan kesempatan membangun green jobs,” tegasnya.

Selain pendekatan ekoteologi yang menyentuh sisi moral, Ateng mengingatkan bahwa kesadaran lingkungan wajib dibarengi dengan penegakan hukum yang konsisten. Menurutnya, keadilan ekologis mensyaratkan adanya tanggung jawab yang sebanding bagi pihak yang menimbulkan kerusakan lingkungan.

“Dukungan terbaik bukanlah tepuk tangan, melainkan tindakan nyata. Mari mulai dari satu mata air yang dijaga dan satu sungai yang dipulihkan. Gerakan ini harus mampu mewariskan Indonesia yang lebih baik bagi generasi mendatang,” pungkas Ateng.

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

2 hours ago
4 days ago
4 days ago
4 days ago
4 days ago
5 days ago

LAINNYA
x
x

mancingduit

situs slot gacor