Anggota Komisi XI DPR RI, Tommy Kurniawan TODAYNEWS.ID – Anggota Komisi XI DPR RI Tommy Kurniawan, mengingatkan pemerintah dan lembaga terkait untuk memberikan perhatian serius terhadap tren pelemahan nilai tukar rupiah yang tengah terjadi.
Menurutnya, dampak dari volatilitas mata uang ini tidak boleh diremehkan karena berpotensi merembet ke berbagai sektor vital perekonomian nasional.
“Pelemahan nilai tukar rupiah harus menjadi perhatian serius karena tidak hanya berdampak pada sektor riil melalui kenaikan biaya impor dan tekanan inflasi,” ujar Tommy, mengutip Jumat (19/6/2026).
“Tetapi juga berpotensi memengaruhi stabilitas sistem keuangan melalui peningkatan risiko pasar, risiko kredit, dan risiko likuiditas,” tambah Tommy.
Politisi PKB ini menekankan bahwa persoalan ini tidak bisa diselesaikan oleh satu instansi saja. Diperlukan sinergi yang solid di jajaran pembuat kebijakan agar dampak buruknya bisa diredam sedini mungkin.
“Karena itu, pelemahan rupiah harus dipandang sebagai isu lintas sektor yang membutuhkan koordinasi kebijakan yang kuat antara otoritas moneter, fiskal, dan sektor jasa keuangan,” tegasnya.
Meski dibayangi oleh ketidakpastian dan tekanan global, Tommy menilai kondisi sektor perbankan domestik hingga Semester I Tahun 2026 ini masih menunjukkan kinerja yang cukup tangguh (resilien).
Merujuk data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga April 2026, kredit perbankan tumbuh 9,98 persen secara tahunan menjadi Rp8.755 triliun, sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 11,39 persen menjadi Rp10.077 triliun.
“Data tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan masih terjaga dengan baik meskipun pasar keuangan global sedang menghadapi tekanan,” katanya.
Selain itu, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan nasional tercatat sebesar 23,97 persen pada April 2026.
Angka tersebut menunjukkan industri perbankan memiliki bantalan modal yang kuat untuk menyerap potensi kerugian akibat gejolak ekonomi maupun tekanan pasar keuangan.