Anggota Komisi XII DPR RI Jalal Abdul Nasir. Foto: Istimewa TODAYNEWS.ID – Anggota Komisi XII DPR RI Jalal Abdul Nasir, memberikan masukan konstruktif kepada pemerintah terkait rencana konversi Liquefied Petroleum Gas (LPG) menuju Compressed Natural Gas (CNG).
Menurutnya, agar agenda transisi energi nasional tetap berjalan selaras dengan keselamatan masyarakat, maka diperlukan beberapa langkah yang harus disiapkan.
“Saya sangat menghargai niat pemerintah membangun kemandirian energi dan menekan impor. Namun, kesiapan infrastruktur, regulasi keselamatan, dan perlindungan masyarakat harus selalu menjadi prioritas utama,” kata Jalal dalam keterangannya, Senin (11/5/2026).
“Yang pertama harus diperhatikan adalah rantai pasoknya. Masyarakat Indonesia sudah sangat terbiasa menggunakan LPG selama puluhan tahun, sehingga proses transisi ini harus dipetakan secara cermat, matang, dan tidak boleh mengganggu kebutuhan harian warga,” lanjut Jalal.
Langkah selanjutnya, kata Jalal, diperlukan kajian terhadap kesiapan distribusi, infrastruktur pendukung, serta pola konsumsi rumah tangga.
Ia menilai hal ini perlu dilakukan secara menyeluruh agar perubahan sistem energi dapat berjalan efektif, terukur, dan memberikan rasa aman bagi pengguna.
“Jangan sampai semangat konversi energi justru membuat masyarakat mengalami kendala memperoleh pasokan gas untuk aktivitas rumah tangga yang selama ini berjalan stabil,” tegas legislator asal Jawa Barat VII itu.
Berikutnya ia menyoroti aspek keamanan teknis penggunaan gas berbasis metana yang dikemas dalam tekanan tinggi, mengingat karakteristik penyimpanan CNG memiliki standar teknis berbeda dibandingkan LPG.
“Secara teori, metana memang lebih ringan dari udara. Namun, CNG membutuhkan tekanan sangat tinggi, sehingga keamanan tabung, pipa, regulator, dan katup harus benar-benar memenuhi standar terbaik,” jelas.
Hal selanjutnya yang harus diperhatikan kata Jalal, adalah kualitas material, ketahanan struktur, sistem pemeliharaan, serta pengawasan berkala juga dipandang penting agar potensi risiko teknis dapat diminimalisasi sejak awal implementasi.
“Masyarakat yang selama ini terbiasa menggunakan LPG tentu membutuhkan edukasi yang memadai, karena penggunaan CNG memerlukan presisi tinggi, pemahaman teknis, dan pemeriksaan berkala,” paparnya.