Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto. (Foto: DPR RI) TODAYNEWS.ID – Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto meminta pemerintah memperkuat kewaspadaan dini terhadap hantavirus melalui pendekatan sistem kesehatan terpadu (one health system).
“Pencegahan hantavirus tidak cukup hanya mengandalkan layanan rumah sakit. Ini menyangkut lingkungan hidup sehari-hari masyarakat,” ucap Edy dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin.
Legislator yang membidangi kesehatan itu menilai ada sejumlah langkah penting yang perlu segera diperkuat. Pertama, memperluas pengintaian penyakit demam akut yang belum terdiagnosis agar kasus hantavirus tidak luput dari pemantauan. Kedua, meningkatkan kapasitas diagnosis laboratorium, termasuk pemeriksaan PCR dan serologi di rumah sakit rujukan.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya memperkuat pengendalian hewan pengerat (rodentia) dan sanitasi lingkungan berbasis masyarakat. Menurut dia, pengelolaan sampah, kebersihan permukiman, serta pengendalian populasi tikus harus menjadi bagian penting dalam kebijakan kesehatan publik.
Edy menjelaskan hantavirus merupakan penyakit zoonosis atau penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia, terutama melalui tikus. Penularan dapat terjadi ketika seseorang menghirup udara yang telah terkontaminasi partikel urine, feses, atau air liur tikus.
“Masih banyak masyarakat yang membersihkan gudang, rumah kosong, atau area yang penuh kotoran tikus tanpa perlindungan dapat menjadi jalur penularan. Ini yang harus diedukasi secara serius,” kata dia.
Karena itu, Edy meminta edukasi publik diperluas agar masyarakat memahami cara mencegah penularan penyakit tersebut. Ia juga menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor karena ancaman zoonosis seperti hantavirus berkaitan erat dengan perubahan lingkungan, urbanisasi, hingga perubahan iklim.
“Kita tidak boleh menunggu sampai terjadi lonjakan kasus besar baru kemudian bergerak. Pencegahan jauh lebih murah dan jauh lebih penting dibandingkan penanganan ketika situasi sudah memburuk,” ujar dia.
Menurut Edy, hantavirus kerap luput dari perhatian karena tidak selalu menimbulkan pandemi. Padahal, beberapa jenis hantavirus memiliki tingkat kematian cukup tinggi, salah satunya Andes virus yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan berat.
“Justru karena sifatnya silent threat (ancaman tersembunyi), kita tidak boleh lengah. Dunia sudah belajar dari pandemi bahwa ancaman kesehatan sering datang dari hal-hal yang awalnya dianggap kecil,” ujar Edy berpesan.
Kasus terbaru hantavirus menjadi sorotan setelah Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization memantau wabah di kapal pesiar MV Hondius berbendera Belanda yang berlayar dari Argentina.
WHO menerima laporan wabah hantavirus di kapal Hondius pada 2 Mei 2026. Sebanyak tujuh orang dari total 147 penumpang dan awak kapal dilaporkan sakit, sementara tiga orang di antaranya meninggal dunia.
Dalam pernyataan WHO pada Selasa (5/5), para korban hantavirus kemungkinan telah terinfeksi sebelum naik ke kapal pesiar tersebut. Namun demikian, kemungkinan penularan antarmanusia di atas kapal juga belum dapat dikesampingkan.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan RI menyatakan telah berkoordinasi dengan WHO untuk memperkuat skrining hantavirus sebagai respons terhadap temuan kasus di kapal pesiar yang berlayar di Samudra Atlantik tersebut.
“Memang itu masih terkonsentrasi di kapal itu. Jadi belum menyebar ke mana-mana. Yang kita lakukan, kita mempersiapkan agar skriningnya kita punya,” kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di Jakarta, Kamis (7/5).
Budi menjelaskan skrining dilakukan melalui tes cepat (rapid test) seperti saat pandemi COVID-19 maupun menggunakan reagen pada mesin PCR. Untuk saat ini, kata dia, pemerintah masih berfokus pada penguatan surveilans.