x

Dari Lantai Bursa Hingga Jalanan Demonstrasi: Sufmi Dasco, Jembatan Negara di Saat Genting

waktu baca 5 menit
Sabtu, 20 Jun 2026 18:42 36 Dhanis Iswara

Oleh: Wakil Ketua Komisi II DPR RI sekaligus Juru Bicara Partai Gerindra, Bahtra Banong

Dalam setiap masa yang sulit, sebuah negara tidak hanya membutuhkan kebijakan yang tepat. Negara juga membutuhkan figur yang mampu menjembatani berbagai kepentingan, meredakan ketegangan, membangun komunikasi, dan memastikan seluruh instrumen bergerak dalam satu arah.

Pada titik-titik seperti itulah nama Prof. Sufmi Dasco Ahmad kerap muncul

Beberapa hari lalu, publik kembali menyaksikan aksi mahasiswa di depan Kompleks Parlemen. Seperti lazimnya gerakan mahasiswa, mereka datang membawa kritik dan tuntutan terhadap berbagai persoalan yang dianggap perlu mendapat perhatian pemerintah.

Mulai dari tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat, harga kebutuhan pokok, distribusi BBM subsidi, efektivitas Program Makan Bergizi Gratis (MBG), transparansi pengelolaan anggaran negara, hingga tata kelola berbagai program prioritas pemerintah.

Yang menarik bukanlah aksi demonstrasinya, melainkan cara negara meresponsnya

Mahasiswa tidak dibiarkan berteriak dari balik pagar. Mereka diterima langsung oleh pimpinan DPR RI yang dipimpin Wakil Ketua DPR RI Prof. Sufmi Dasco Ahmad.

Aspirasi mereka didengarkan, berbagai tuntutan dicatat, bahkan sejumlah persoalan yang disampaikan langsung dikomunikasikan kepada pihak terkait. Setelah dialog selesai, Dasco kembali menemui massa aksi dan menyampaikan hasil pertemuan tersebut secara terbuka.

Bagi sebagian orang, mungkin itu terlihat biasa. Namun dalam iklim politik yang semakin terbuka dan sering kali penuh ketegangan, tidak semua pemimpin bersedia berhadapan langsung dengan kritik yang datang dalam jumlah besar dan disampaikan dengan nada keras.

Di sinilah terlihat salah satu karakter kepemimpinan Dasco yakni memilih dialog daripada konfrontasi, memilih mendengar daripada mempertajam perbedaan.

Sesungguhnya, peristiwa 19 Juni 2026 tersebut bukanlah kejadian yang berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari pola kepemimpinan yang selama ini diperlihatkan Dasco.

Ketika komunikasi politik mengalami kebuntuan, ketika pasar keuangan bergejolak, ketika kritik publik menguat, bahkan ketika mahasiswa turun ke jalan, Dasco hampir selalu berada di titik-titik yang membutuhkan jembatan.

Publik masih mengingat bagaimana ia berperan aktif membangun komunikasi hingga kepada kelompok-kelompok yang kritis terhadap pemerintah pun ia memilih membuka ruang komunikasi.

Bahkan Rocky Gerung, seorang intelektual yang dikenal sangat kritis terhadap kekuasaan, pernah menyebut Dasco sebagai “kawan politik”. Sebuah pengakuan yang menunjukkan bahwa komunikasi politik dapat tetap terjaga meskipun pandangan berbeda.

Peran serupa juga terlihat ketika Indonesia menghadapi tekanan ekonomi beberapa waktu lalu. Saat nilai tukar rupiah sempat menyentuh kisaran Rp18.171 per dolar AS pada 8 Juni 2026 dan IHSG mengalami tekanan yang cukup dalam, Dasco mengambil inisiatif melakukan konsolidasi nasional.

Pada 6 Juni, ia mempertemukan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, dan pimpinan Komisi XI DPR RI untuk menyelaraskan kebijakan fiskal dan moneter.

Konsolidasi berlanjut pada 8 Juni bersama Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Danantara, Menteri Hukum, dan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas hilirisasi, investasi, tata kelola sumber daya alam, serta penguatan sektor riil.

Selanjutnya pada 9 Juni, ia kembali memimpin koordinasi bersama Danantara dan pimpinan bank-bank Himbara guna memperkuat sektor keuangan dan menjaga kepercayaan investor.

Rangkaian langkah tersebut menunjukkan bahwa negara tidak sedang diam menghadapi tantangan yang ada. Negara bekerja melalui koordinasi yang kuat, komunikasi yang intensif, dan sinergi antarlembaga.

Hasilnya mulai terlihat

Pada 12 Juni 2026, rupiah menguat menjadi Rp17.921 per dolar AS, sementara IHSG rebound dan ditutup pada level 6.007,66 atau menguat sekitar 7,38 persen dalam sepekan.

Tentu perkembangan ini tidak dapat diklaim sebagai hasil dari satu faktor tunggal. Namun setidaknya menunjukkan bahwa pasar merespons positif hadirnya kepastian, koordinasi, dan kepercayaan terhadap kemampuan negara mengelola keadaan.

Di sinilah benang merah itu terlihat jelas. Baik ketika berhadapan dengan gejolak pasar, kebuntuan komunikasi politik, maupun kritik mahasiswa di jalanan, Dasco selalu memilih hadir di titik-titik yang membutuhkan jembatan.

Menjembatani pemerintah dengan masyarakat. Menjembatani kebijakan dengan aspirasi publik. Menjembatani negara dengan pasar. Menjembatani kritik dengan solusi.

Pendekatan seperti ini juga mencerminkan bagaimana DPR RI menjalankan perannya saat ini. Di bawah kepemimpinan yang terbuka terhadap dialog, DPR tidak hanya menjalankan fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan secara formal, tetapi juga memperkuat fungsi representasi sebagai rumah aspirasi rakyat.

Aspirasi mahasiswa yang disampaikan pada 19 Juni lalu tidak berhenti sebagai suara demonstrasi, tetapi menjadi bagian dari bahan pengawasan DPR RI terhadap jalannya pemerintahan.

Karena itu, DPR RI terus mengawal pelaksanaan program-program prioritas Presiden Prabowo Subianto, mulai dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, ketahanan pangan, hilirisasi industri, investasi nasional, hingga berbagai program pembangunan sumber daya manusia.

Pengawalan tersebut dilakukan bukan untuk menghambat program pemerintah, melainkan memastikan seluruh program berjalan secara transparan, akuntabel, tepat sasaran, dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi rakyat.

Tuntutan mahasiswa mengenai transparansi dan tata kelola yang baik bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan agenda pemerintah. Sebaliknya, hal tersebut justru menjadi bagian penting untuk memastikan program-program prioritas nasional semakin kuat dan semakin dipercaya publik.

Pada akhirnya, demokrasi tidak hanya membutuhkan kebebasan menyampaikan kritik, tetapi juga membutuhkan kemampuan negara untuk mendengar dan menghadirkan solusi. Tidak semua tuntutan dapat diselesaikan dalam satu pertemuan.

Tidak semua persoalan dapat selesai dalam satu kebijakan. Namun demokrasi yang sehat selalu menyediakan ruang dialog, ruang komunikasi, dan ruang untuk mempertemukan berbagai perbedaan dalam satu tujuan bersama.

Di tengah ketidakpastian global dan tantangan nasional yang semakin kompleks, Indonesia membutuhkan lebih banyak kolaborasi daripada konfrontasi, lebih banyak solusi daripada agitasi, dan lebih banyak persatuan daripada perpecahan.

Apa yang ditunjukkan Prof. Sufmi Dasco Ahmad dalam berbagai momentum penting beberapa waktu terakhir memperlihatkan satu hal sederhana: bahwa di saat-saat genting, negara membutuhkan jembatan. Dan tidak banyak orang yang bersedia mengambil peran itu.

Karena pada akhirnya, kepemimpinan bukan hanya soal mengambil keputusan. Kepemimpinan adalah kemampuan mempertemukan berbagai kepentingan, mendengar berbagai suara, dan memastikan negara tetap bergerak maju di tengah perbedaan.

Dari lantai Bursa Efek hingga jalanan demonstrasi, itulah peran yang sedang dijalankan Sufmi Dasco Ahmad.

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

1 day ago
1 day ago
1 day ago
2 days ago
2 days ago
3 days ago

LAINNYA
x
x

mancingduit

situs slot gacor