x

BPS: Program Biodiesel B50 Berpotensi Tekan Volume Ekspor Sawit

waktu baca 2 menit
Senin, 3 Agu 2026 19:41 27 Afrizal Ilmi

TODAYNEWS.ID — Badan Pusat Statistik (BPS) menilai penerapan mandatori biodiesel B50 berpotensi memengaruhi volume ekspor produk minyak kelapa sawit Indonesia. Dampaknya diperkirakan mulai terlihat pada semester II 2026.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan program B50 mulai diterapkan sejak Juli 2026. Kebijakan tersebut diperkirakan akan memengaruhi arus ekspor minyak sawit nasional.

“Untuk yang penerapan B50 yang akan dimulai kita tahu bersama pada bulan Juli 2026, ini cenderung berpotensi akan mempengaruhi volume ekspor produk minyak kelapa sawit Indonesia. Khususnya nanti pada Semester II di tahun 2026,” ujar Ateng di Jakarta, Senin (3/8/2026).

Meski demikian, BPS belum menyimpulkan besarnya dampak kebijakan tersebut. Ateng menegaskan lembaganya masih terus memantau perkembangan berbagai indikator yang berkaitan dengan sektor sawit.

Menurut dia, BPS tidak melakukan estimasi atau proyeksi terhadap dampak kebijakan. Lembaga itu hanya mencermati data dan dinamika yang terjadi di lapangan.

Ateng menjelaskan terdapat sejumlah variabel yang harus diperhatikan sebelum menarik kesimpulan. Di antaranya adalah produksi dan persediaan minyak sawit, peningkatan permintaan domestik, serta pergerakan harga di dalam dan luar negeri.

“Itu beberapa ya variabel yang perlu untuk dicermati dalam rangka tadi melakukan perkiraan dan estimasi dan BPS tidak melakukan estimasi ataupun perkiraan,” katanya.

Di sisi lain, nilai ekspor minyak mentah kelapa sawit (CPO) dan berbagai fraksinya masih mencatat pertumbuhan positif sepanjang semester I 2026. Produk dengan kode HS 1511 itu tumbuh secara kumulatif sebesar 7,32 persen.

Namun, laju pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Dengan kata lain, ekspor CPO masih meningkat, tetapi kecepatannya mulai melambat.

Ateng mengatakan perlambatan itu tidak berarti ekspor mengalami penurunan. Nilai ekspor tetap bertambah meski pertumbuhannya tidak secepat tahun lalu.

“Ini artinya nilai ekspor CPO pada Semester I ini masih mengalami kenaikan. Namun saya ulangi jika pertumbuhannya dibandingkan dengan tahun 2025 maka pertumbuhan pada Semester I tahun 2026 mengalami perlambatan,” ujarnya.

BPS akan terus memantau perkembangan implementasi B50 pada paruh kedua tahun ini. Hasil pengamatan terhadap berbagai variabel tersebut akan menjadi dasar untuk melihat pengaruh kebijakan terhadap kinerja ekspor minyak sawit Indonesia.

 

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

2 days ago
2 days ago
6 days ago
1 week ago
1 week ago
2 weeks ago

LAINNYA
x
x

mancingduit

situs slot gacor