Laporan: Azis Arriadh
Ilustrasi. Karyawan melintas di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto: Antara TODAYNEWS.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengakhiri perdagangan Rabu (28/10/2026) di level 5.282,31, naik 16,18 poin atau 0,31%. Kinerja positif tersebut sejalan dengan penguatan bursa saham di kawasan Asia. Indeks LQ45 yang mencakup 45 saham unggulan juga menguat 6,45 poin atau 1,21% ke posisi 539,47.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus alias Nico, menilai penguatan bursa Asia dipengaruhi pergerakan positif Wall Street pada perdagangan sebelumnya. Optimisme investor terhadap perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) turut menjadi penopang pasar.
“Bursa Asia didominasi penguatan mengikuti Wall Street semalam, di tengah kembali meningkatnya optimisme terhadap kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Reli tersebut terjadi setelah Anthropic (Claude AI) akan melakukan IPO pada pertengahan November (2026),” ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta, Rabu (28/10/2026).
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak fluktuatif. Indeks sempat dibuka melemah dan bertahan di zona merah hingga penutupan sesi pertama. Memasuki sesi kedua, IHSG berbalik ke zona hijau dan mempertahankan penguatannya hingga perdagangan berakhir.
Dari dalam negeri, penguatan IHSG mendapat dukungan dari keputusan FTSE Russell yang mempertahankan status Indonesia sebagai pasar berkembang atau emerging market. Pernyataan pemerintah mengenai ketersediaan pasokan bahan bakar minyak (BBM), baik bersubsidi maupun nonsubsidi, yang masih mencukupi juga memberikan sentimen positif bagi pasar.
Meski demikian, Nico menilai peluang penguatan IHSG masih terbatas. Investor masih mencermati ketidakpastian terkait status Indonesia dalam indeks MSCI, yang menjadi salah satu faktor yang membayangi pergerakan pasar saham domestik.
Di pasar global, pelaku pasar menantikan pengumuman kebijakan moneter dari tiga bank sentral utama, yakni Federal Reserve Amerika Serikat (The Fed), European Central Bank (ECB), dan Bank of Japan (BOJ).
Ketiga bank sentral tersebut diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan pada level saat ini. Proyeksi itu muncul di tengah kondisi geopolitik global yang masih belum stabil.
Tekanan lainnya datang dari harga minyak yang bertahan di atas US$100 per barel. Menurut Nico, kondisi tersebut meningkatkan tekanan fiskal. Sementara itu, rencana pemerintah menggratiskan pendidikan hingga tingkat universitas berpotensi menambah beban keuangan negara di tengah berbagai komitmen belanja lainnya.
Di pasar obligasi, imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Indonesia bertenor 10 tahun naik menjadi 7,66%. Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak Oktober 2022, seiring imbal hasil US Treasury yang masih tinggi menjelang keputusan suku bunga The Fed.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, tiga sektor mencatatkan penguatan pada perdagangan Rabu. Sektor kesehatan memimpin dengan kenaikan 1,72%, disusul sektor keuangan yang menguat 0,54% serta transportasi dan logistik sebesar 0,30%.
Sebaliknya, delapan sektor mengalami pelemahan. Sektor infrastruktur mencatat penurunan terdalam sebesar 2,44%, diikuti sektor energi yang turun 1,32% dan sektor industri yang melemah 0,81%.
Pada perdagangan saham individual, KOPI, KOKA, PBID, MKNT, dan PTSP masuk dalam jajaran saham dengan penguatan terbesar. Sementara itu, RCCC, EURO, UDNG, HBAT, dan GRPM menjadi saham-saham yang mencatatkan pelemahan terdalam.
Aktivitas perdagangan saham di BEI tercatat mencapai 1,53 juta kali transaksi. Total volume perdagangan mencapai 31,53 miliar lembar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp15,87 triliun.
Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 281 saham mengalami kenaikan, 429 saham melemah, sedangkan 253 saham tidak mengalami perubahan nilai.
Penguatan juga terjadi di sejumlah bursa saham regional Asia pada Rabu sore. Indeks Nikkei naik 1,52% ke posisi 64.232,00, sedangkan indeks Kospi menguat 6,63% ke level 6.012,44.
Indeks Shanghai turut menguat 0,91% ke posisi 3.681,47. Adapun indeks Hang Seng naik 0,23% menjadi 23.094,83, sementara indeks Strait Times bertambah 0,02% ke posisi 5.397,91.
Meski penguatan terjadi di sejumlah pasar saham Asia, investor masih perlu mencermati berbagai faktor yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar. Faktor tersebut meliputi kebijakan suku bunga bank sentral, perkembangan geopolitik, tekanan fiskal, hingga ketidakpastian mengenai status Indonesia dalam indeks MSCI.
Editor: Azis Arriadh