x

Bantu Mobilitas Tunanetra, Mahasiswa UPI Ciptakan “Netravest”, Rompi Navigasi Cerdas Berbasis AI dan LiDAR

waktu baca 7 menit
Kamis, 10 Sep 2026 23:01 33 Asep Awaludin

TODAYNEWS.ID — Lima mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengembangkan Netravest, rompi navigasi cerdas berbasis kecerdasan artifisial (AI) yang dirancang untuk membantu penyandang tunanetra mengenali objek dan kondisi lingkungan secara waktu nyata.

Perangkat wearable ini menggabungkan teknologi computer vision, sensor Light Detection and Ranging (LiDAR), sensor fusion, bone conduction, dan sistem peringatan berbasis getaran sebagai teknologi pendamping tongkat putih untuk mendukung mobilitas di ruang publik.

Netravest dikembangkan oleh lima orang mahasiswa UPI, Raden Farhan Rizki Septrian, Najwa Adistia Nisrina, Muhammad Fattan Al Farisi, Sulthan Ariq Haikal, dan Hanif Muzaffar Gunawan yang didampingi oleh dosen pembimbing, Muhammad Taufik Dwi Putra, S.Tr.Kom., M.T.I., melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) tahun 2026.

Pengembangan prototipe dimulai pada Juni 2026 dan selesai pada akhir Juli 2026. Sejak Agustus hingga September 2026, perangkat memasuki tahap pemantauan dan pengujian fungsional untuk mengevaluasi kemampuan sistem sekaligus mengidentifikasi aspek yang masih perlu disempurnakan.

Berangkat dari Persoalan Mobilitas Tunanetra

Gagasan Netravest berangkat dari proses diskusi dan wawancara dengan penyandang tunanetra. Tim berupaya memahami secara langsung tantangan yang dihadapi pengguna ketika berpindah dari satu tempat ke tempat lain, terutama ketika berada di lingkungan yang belum dikenal.

Hasil pemetaan kebutuhan menunjukkan bahwa tongkat putih sebagai alat bantu mobilitas utama memiliki keterbatasan dalam mendeteksi sejumlah objek.

Rintangan yang berada di atas jangkauan tongkat, seperti spanduk, baliho, atau papan reklame yang rendah, dapat luput dari deteksi. Demikian pula kondisi permukaan jalan, termasuk lubang atau objek tertentu yang berpotensi mengganggu mobilitas, membutuhkan mekanisme deteksi tambahan.

Atas dasar itu, Netravest tidak dirancang untuk menggantikan tongkat putih. Perangkat dikembangkan sebagai alat bantu pelengkap yang memperluas informasi spasial yang dapat diterima pengguna.

Ketua Tim Netravest, Raden Farhan Rizki Septrian, mengatakan pengembangan perangkat tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan pengguna sejak tahap perumusan masalah.

“Tujuan kami bukan menggantikan tongkat, tetapi memberikan informasi tambahan kepada pengguna mengenai apa yang ada di sekitar mereka sehingga mobilitas dapat dilakukan dengan lebih aman dan mandiri,”katanya.

Pendekatan berbasis kebutuhan pengguna juga diterapkan selama pengujian. Tim memperoleh sejumlah masukan mengenai bobot, material, ukuran komponen, serta kenyamanan rompi sebagai dasar untuk pengembangan berikutnya.

AI Kenali Lebih dari 20 Kelas Objek

Salah satu komponen utama Netravest adalah sistem computer vision yang menggunakan algoritma pendeteksi objek YOLOv8n. Sistem tersebut dikembangkan menggunakan lebih dari 30.000 dataset dan mencakup lebih dari 20 kelas objek rintangan.

Kamera pada perangkat digunakan untuk menangkap kondisi lingkungan dan mengenali objek yang berpotensi mengganggu mobilitas. Sistem juga dirancang untuk mendeteksi rintangan pada bagian bawah maupun atas bidang pandang pengguna.

Untuk meningkatkan kemampuan pengukuran jarak, Netravest menggunakan sensor LiDAR. Sensor ini bekerja dengan memancarkan pulsa laser dan mengukur waktu pantulan kembali dari objek sehingga sistem dapat memperoleh informasi mengenai jarak objek.

Kedua sumber informasi tersebut kemudian digabungkan melalui sensor fusion. Pendekatan ini memungkinkan kamera dan LiDAR saling melengkapi, terutama ketika karakteristik suatu objek tidak cukup terdeteksi hanya melalui satu sensor.

Dalam pengujian, sistem memberikan peringatan ketika objek berada pada kisaran sekitar 110–150 sentimeter dari pengguna. Untuk fungsi tertentu, waktu pemrosesan pendeteksian dapat mencapai sekitar 200 milidetik.

Kemampuan kamera juga dikembangkan untuk menghadapi kondisi pencahayaan yang berbeda. Sistem memiliki dukungan night vision sehingga dapat membantu proses pengenalan objek ketika kondisi lingkungan minim cahaya.

Informasi Disampaikan melalui Bone Conduction

Informasi hasil deteksi disampaikan kepada pengguna melalui audio dengan teknologi bone conduction. Teknologi tersebut dipilih agar pengguna tetap dapat mendengar suara lingkungan sekitar dan tidak menutup saluran pendengaran sebagaimana penggunaan earphone konvensional.

Selain audio, Netravest memberikan umpan balik berupa getaran sebagai informasi tambahan.

Teknologi bone conduction juga digunakan pada fitur pengenalan nominal mata uang rupiah. Pengguna cukup menempatkan uang di depan kamera, dengan jarak pengujian sekitar 30 sentimeter. Setelah sistem mengenali nominal, informasi tersebut disampaikan melalui audio.

Dalam pengujian, proses pengenalan nominal dapat berlangsung sekitar 200 milidetik. Fitur tersebut dikembangkan untuk mendukung kemandirian pengguna ketika melakukan transaksi.

Dalam proses uji coba, tim menemukan bahwa pengguna tunanetra masih dapat mengalami kesulitan mengenali nominal uang secara mandiri. Melalui fitur pengenalan nominal pada Netravest, pengguna dapat memperoleh informasi tanpa harus selalu meminta bantuan orang lain.

Dilengkapi Sistem SOS dan Pemantauan Lokasi

Netravest juga membawa fungsi keselamatan melalui sistem SOS yang terintegrasi dengan aplikasi pendamping.

Sistem SOS memiliki dua mekanisme aktivasi, yaitu tombol pada rompi dan tombol pada aplikasi. Tombol pada rompi dapat diaktifkan dengan menahannya selama sekitar tiga detik. Setelah aktif, sistem mengirimkan informasi kepada aplikasi pendamping.

Informasi yang dapat diterima pendamping mencakup lokasi terakhir pengguna serta kondisi perangkat, termasuk status baterai, kamera, GPS, dan sensor. Sistem juga dikembangkan dengan fitur notifikasi melalui bot Telegram.

Perangkat memiliki GPS pada rompi dan dapat memanfaatkan GPS pada telepon seluler pengguna sebagai sumber informasi lokasi tambahan. Koneksi internet terutama digunakan untuk fungsi SOS dan pemantauan berbasis peta, sedangkan proses utama deteksi objek dilakukan secara offline pada perangkat.

Bobot dan Komponen Masih Dioptimalkan

Sebagai prototipe, Netravest saat ini memiliki bobot sekitar 2 kilogram. Tim menargetkan pengurangan bobot hingga sekitar 1 kilogram melalui miniaturisasi unit pemrosesan dan komponen elektronik.

Baterai yang digunakan saat ini dirancang untuk mendukung penggunaan hingga sekitar 8 jam. Namun, ukuran baterai masih menjadi salah satu komponen yang ingin diperkecil oleh tim tanpa mengurangi durasi penggunaan.

Selain bobot, material rompi juga akan disempurnakan berdasarkan masukan pengguna. Dalam pengujian, pengguna memberikan saran agar bagian dalam rompi ditambahkan kain katun untuk meningkatkan kenyamanan dan mengurangi suara gesekan material.

Anggota tim Netravest, Hanif Muzaffar Gunawan, mengatakan pengembangan prototipe masih akan terus dilakukan.

“Masih banyak potensi yang bisa dioptimalisasi lagi, mulai dari AI sampai ke hardware. Harapannya, ke depan perangkat ini bisa lebih ringkas dan lebih optimal,”katanya.

UPI Dorong Prestasi Mahasiswa yang Berdampak

Direktur Direktorat Kemahasiswaan dan Alumni UPI, Prof. Dr. Hj. Siti Nurbayani Kusumaningsih, M.Si., mengapresiasi pengembangan Netravest sebagai salah satu bentuk prestasi mahasiswa melalui Program Kreativitas Mahasiswa.

Menurutnya, capaian tersebut tidak hanya menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam menghasilkan inovasi teknologi, tetapi juga memperlihatkan bagaimana ilmu pengetahuan, kreativitas, dan kepedulian sosial dapat diarahkan menjadi solusi bagi masyarakat.

“Kami berbangga melihat perkembangan prestasi mahasiswa, khususnya melalui Program Kreativitas Mahasiswa. Netravest menjadi salah satu karya yang membanggakan karena mengusung skema PKM-KC dan tidak hanya menghasilkan sebuah teknologi, tetapi menunjukkan bagaimana ilmu, kreativitas, dan kepedulian sosial mahasiswa dapat diubah menjadi solusi nyata bagi masyarakat, khususnya bagi penyandang tunanetra,”ujarnya.

Prof. Siti mengatakan, karya mahasiswa diharapkan tidak berhenti pada pencapaian penghargaan, tetapi memiliki nilai tambah berupa manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

“Kami berharap prestasi mahasiswa bukan hanya untuk mendapatkan penghargaan, tetapi juga menghadirkan karya yang memberikan manfaat dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat, khususnya teman-teman penyandang tunanetra,”ujarnya.

Ia berharap pengembangan Netravest dapat terus dilanjutkan sehingga memberikan inspirasi bagi mahasiswa lain untuk menghasilkan karya yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

“Selamat kepada tim Netravest. Terus berkembang dan mudah-mudahan ke depannya menjadi orang-orang yang sukses karena telah menghasilkan karya yang membanggakan Universitas Pendidikan Indonesia,”ucapnya.

Dari Prototipe Menuju Hilirisasi

Setelah menyelesaikan tahap prototipe dan pengujian awal, tim Netravest akan melanjutkan pengembangan pada aspek perangkat keras, algoritma AI, konsumsi daya, ukuran, bobot, kenyamanan, serta pengalaman pengguna.

Tim berharap ke depan adanya dukungan kemitraan dengan industri untuk mempercepat proses pengembangan. Dukungan tersebut terutama diperlukan untuk melakukan miniaturisasi komponen, meningkatkan kemampuan sistem, serta mengoptimalkan desain tanpa mengurangi keandalan perangkat.

Dalam jangka panjang, Netravest diarahkan untuk berkembang dari prototipe penelitian menjadi teknologi asistif yang lebih ringkas, nyaman, aman, dan sesuai dengan kebutuhan penyandang tunanetra.

Pengembangan tersebut juga sejalan dengan upaya UPI mendorong riset dan inovasi mahasiswa agar tidak berhenti pada tahap penciptaan prototipe, tetapi dilanjutkan melalui pengujian, pengembangan teknologi, perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), dan kemitraan yang membuka peluang hilirisasi.

Dengan pendekatan yang menempatkan kebutuhan pengguna sebagai salah satu dasar pengembangan, Netravest diharapkan dapat terus disempurnakan hingga memiliki kesiapan teknologi yang lebih tinggi dan berpotensi dimanfaatkan secara lebih luas oleh komunitas penyandang tunanetra di Indonesia. ***

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

2 days ago
2 days ago
4 days ago
6 days ago
6 days ago
1 week ago

LAINNYA
x
x

mancingduit

situs slot gacor