x

Buku Puisi Esai Denny JA Diterjemahkan ke-35 Bahasa

waktu baca 4 menit
Senin, 13 Jul 2026 20:28 21 Akbar Budi

TODAYNEWS.ID – Buku puisi esai karya Denny JA akan diterjemahkan ke dalam 35 bahasa. Hal ini menjadikannya salah satu proyek penerjemahan sastra Indonesia paling luas dalam sejarah.

Penerbit CBI mengumumkan keputusan tersebut lahir setelah Denny JA menerima BRICS Award 2025 untuk kategori Inovasi Sastra.

Semula dari pihak Panitia BRICS Award muncul gagasan agar karya puisi esainya diterjemahkan ke bahasa negara-negara anggota BRICS.

Penghargaan BRICS Award 2025 tersebut diberikan oleh sembilan dewan juri internasional yang mewakili semua negara anggota, setelah menyisihkan ratusan kandidat dari berbagai negara.

Namun, gagasan itu berkembang menjadi proyek yang jauh lebih luas. Menghadirkan satu karya yang mengangkat tragedi kemanusiaan dunia kepada pembaca lintas budaya dan lintas bahasa.

“Bagi kami, penerjemahan bukan sekadar memindahkan kata-kata dari satu bahasa ke bahasa lain. Penerjemahan adalah cara memperluas empati antarmanusia,” ujar Dirut Penerbit CBI, Ari Nugroho dalam keterangannya, Senin (13/7/2026).

Dari delapan buku puisi esai Denny JA yang telah tersedia dalam bahasa Inggris, judul buku: “Yang Menggigil dalam Arus Sejarah” dipilih karena mengangkat tema yang paling universal.

Lima belas puisi esai di dalamnya membawa pembaca memasuki berbagai tragedi besar dunia: Perang Dunia Pertama, Flu Spanyol, Revolusi Rusia, Hiroshima, Pembantaian Nanking, Revolusi Prancis, Bastille, perbudakan di Amerika, Holocaust, Ghetto Warsawa, kelaparan besar di bawah Mao Zedong, Revolusi Kebudayaan Tiongkok, hingga tragedi boat people Vietnam.

Namun buku ini tidak menempatkan para penguasa sebagai tokoh utama sejarah.

Yang dihadirkan justru mereka yang selama ini hampir tak pernah disebut: seorang ibu yang kehilangan anaknya akibat bom Hiroshima, seorang bocah Yahudi yang tak pernah kembali dari Auschwitz, atau keluarga pengungsi Vietnam yang mempertaruhkan hidup di Laut Cina Selatan demi secercah harapan.

“Sejarah biasanya mengingat para pemenang. Sastra mengingat mereka yang nyaris dilupakan,” kata Penerbit.

Keunikan buku ini terletak pada bentuk puisi esai, sebuah genre yang memadukan puisi naratif dengan catatan kaki faktual.

Setiap puisi dibangun di atas peristiwa sejarah yang terdokumentasi, sementara bahasa puitis menghadirkan pengalaman emosional para korban.

“Sejarah menjelaskan apa yang terjadi. Puisi membantu kita merasakan bagaimana rasanya berada di dalam peristiwa itu,” ujar Penerbit CBI.

Menurut penerbit, pendekatan tersebut membuat pembaca tidak hanya memperoleh pengetahuan sejarah, tetapi juga mengalami kedalaman moral dari setiap tragedi.

Salah satu puisi yang paling menyentuh dalam buku ini berkisah tentang keluarga Nguyen, pengungsi Vietnam yang berlayar di Laut Cina Selatan.

Di tengah ombak dan ancaman kematian, seorang ayah hanya mampu meminta putrinya memejamkan mata dan membayangkan sebuah negeri yang ramah.

“Bagi kami, adegan itu menunjukkan hakikat sastra. Statistik mampu mengejutkan, tetapi satu wajah manusia sering kali jauh lebih sulit dilupakan daripada jutaan angka,” ujar Penerbit CBI.

Karena itulah buku ini dipandang memiliki daya jangkau universal.
Tangisan seorang ibu di Hiroshima dapat dipahami di Brasil.

Ketakutan seorang anak Yahudi dapat dirasakan di Mesir. Harapan seorang pengungsi Vietnam dapat dimengerti di Afrika Selatan.

Bahasa yang sesungguhnya dipakai buku ini bukanlah bahasa Indonesia ataupun Inggris, melainkan bahasa kemanusiaan.

Ari Nugroho menilai bahwa dunia saat ini memerlukan lebih banyak karya yang membangun empati lintas budaya.

Proyek penerjemahan ini dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama telah rampung, mencakup enam bahasa utama dunia: Inggris, Prancis, Spanyol, Arab, Rusia, dan Mandarin.

Keenam bahasa ini dipilih karena mewakili cakupan pembaca terbesar di lima benua sekaligus merepresentasikan bahasa resmi PBB dan bahasa kerja negara-negara anggota BRICS.

Tahap kedua akan memperluas jangkauan ke 29 bahasa tambahan dari berbagai negara di Asia, Afrika, Eropa, Amerika Latin, dan Oseania, dengan target penyelesaian pada akhir 2027.

Ketika seluruh proses rampung, “Yang Menggigil dalam Arus Sejarah” akan tersedia dalam 35 bahasa—menjadikannya salah satu karya sastra Indonesia dengan jangkauan bahasa terluas hingga saat ini.

Seluruh edisi terjemahan akan dipublikasikan secara terbuka dan dapat diakses melalui Google Books, sehingga pembaca dari negara mana pun dapat mengunduh dan membacanya tanpa hambatan geografis.

Format digital ini dipilih agar karya benar-benar menjangkau pembaca lintas budaya, sejalan dengan semangat universalitas yang menjadi jiwa buku ini.

Untuk merealisasikan proyek ini, Penerbit CBI menjalin kerja sama dengan sejumlah pihak penerjemahan, serta pihak BRICS yang di Indonesia dikoordinasikan oleh Sastri Bakry, sastrawan dan tokoh sastra yang menjadi koordinator Indonesia untuk inisiatif BRICS Literary Innovation.

Denny JA sendiri menyatakan bahwa bukunya yang akan diterjemahkan ke dalam 35 bahasa nukan tujuan akhir baginya.

“Tiga puluh lima bahasa bukanlah tujuan akhir. Yang ingin saya sebarkan bukan sekadar puisi, melainkan kemampuan manusia untuk ikut merasakan penderitaan manusia lain,” pungkasnya.

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

12 hours ago
4 days ago
4 days ago
5 days ago
5 days ago
6 days ago

LAINNYA
x
x

mancingduit

situs slot gacor