x

Amerika Lancarkan Serangan, Iran Sebut Ingkar Janji sebagai Sifat Dasar Mereka

waktu baca 3 menit
Senin, 29 Jun 2026 08:55 29 Afrizal Ilmi

TODAYNEWS.ID — Konflik antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah kedua negara saling melancarkan serangan menyusul rapuhnya kesepakatan damai sementara yang disepakati pada 17 Juni 2026.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menuding Amerika Serikat memiliki karakter selalu mengingkari perjanjian dan memperingatkan akan memberikan balasan yang lebih menghancurkan jika serangan kembali terjadi.

IRGC menyampaikan pernyataan tersebut pada Minggu (28/6/2026) waktu setempat setelah Amerika melancarkan serangan terhadap infrastruktur pesisir Iran.

Menurut mereka, aksi militer Washington dilakukan dengan dalih menghadapi konfrontasi antara Angkatan Laut IRGC dan kapal yang dianggap melanggar aturan.

“Sifat dasar musuh agresor adalah melanggar perjanjian dan mengingkari janji,” demikian pernyataan IRGC yang dikutip Fars News Agency, Senin (29/6/2026).

IRGC menambahkan, “AS menyerang fasilitas Iran pada Minggu pagi dengan menggunakan dalih konfrontasi Angkatan Laut IRGC dengan kapal yang melanggar aturan.”

Sebagai balasan, IRGC mengklaim telah meluncurkan rudal balistik dan drone ke sejumlah fasilitas militer Amerika di kawasan Teluk. Iran menyebut serangan itu menghancurkan delapan instalasi militer di pangkalan Ali Al-Salem, Kuwait, serta markas Armada Kelima Angkatan Laut Amerika di Bahrain.

IRGC menegaskan pihaknya tidak akan tinggal diam apabila Washington kembali melakukan serangan. Menurut mereka, setiap aksi militer baru terhadap Iran akan dibalas dengan respons yang lebih besar.

Di tengah meningkatnya ketegangan, kedua negara juga saling berselisih mengenai implementasi nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) yang mengatur lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu rute pengiriman minyak terpenting di dunia.

Iran menegaskan seluruh kapal yang melintasi Selat Hormuz harus memperoleh izin dari otoritas Teheran dan mengikuti jalur pelayaran yang ditetapkan. Sebaliknya, Amerika Serikat menuntut kebebasan navigasi tanpa hambatan maupun pungutan dari Iran.

Perbedaan tafsir atas MoU itu disebut menjadi salah satu pemicu meningkatnya ketegangan. Situasi semakin rumit setelah konflik regional turut dipengaruhi oleh serangan Israel di Lebanon.

Para pejabat Iran menilai serangan terbaru Amerika semakin mengikis kepercayaan terhadap proses diplomasi.

Mereka juga mengingatkan bahwa Washington dan Israel pernah melancarkan operasi militer terhadap Iran saat pembicaraan mengenai program nuklir masih berlangsung.

Di sisi lain, secercah peluang penyelesaian konflik masih terbuka. Media Amerika, Axios, melaporkan kedua negara telah mencapai kesepakatan sementara untuk menghentikan aksi saling serang berdasarkan keterangan seorang pejabat senior Amerika Serikat.

Laporan tersebut menyebut delegasi Amerika Serikat dan Iran diperkirakan bertemu di Doha, Qatar, pada Selasa (30/6/2026). Pertemuan itu dijadwalkan membahas penyelesaian sengketa terkait pengaturan Selat Hormuz.

Seorang pejabat Amerika juga mengatakan kepada Al Arabiya bahwa pembicaraan teknis masih berjalan sesuai jadwal. Ia menegaskan agenda perundingan belum dibatalkan meski situasi keamanan kembali memburuk.

Namun, pihak Iran memberikan sinyal berbeda. Anggota Kantor Pelestarian dan Publikasi Karya Pemimpin Tertinggi Iran, Mehdi Fazaeili, menyatakan negaranya belum mengikuti pembicaraan teknis karena menilai syarat dalam MoU belum dipenuhi Amerika Serikat.

“Misalnya, salah satu alasannya adalah memeriksa apakah kami memiliki akses ke dana yang tidak dibekukan, jika tidak ada akses maka kondisi ini belum terpenuhi,” kata Fazaeili.

Pernyataan itu menegaskan bahwa masa depan negosiasi masih bergantung pada pemenuhan komitmen kedua belah pihak di tengah meningkatnya eskalasi militer.

 

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

2 hours ago
1 day ago
3 days ago
3 days ago
4 days ago
4 days ago

LAINNYA
x
x

mancingduit

situs slot gacor