Kiper Tim Nasional Tanjung Verde (Cape Verde), Vozinha. (IG/@sportsillustratedfc) TODAYNEWS.ID — Tanjung Verde berhasil mencuri perhatian dunia setelah menahan imbang Spanyol tanpa gol pada laga Grup H Piala Dunia 2026. Hasil tersebut menjadi salah satu kejutan terbesar di turnamen mengingat perbedaan status dan kekuatan kedua tim.
Spanyol datang ke pertandingan sebagai salah satu favorit juara. Sementara itu, Tanjung Verde menjalani debutnya di ajang Piala Dunia dengan status tim yang berada jauh di bawah lawannya dalam peringkat FIFA.
Di atas kertas, pertandingan berlangsung timpang sejak awal. Spanyol merupakan negara yang pernah meraih satu gelar Piala Dunia dan empat trofi Piala Eropa, sedangkan Tanjung Verde bahkan pernah kalah dari Mauritania pada fase kualifikasi.
Dominasi Spanyol terlihat jelas sepanjang pertandingan. Tim Matador menguasai 74 persen penguasaan bola dan terus menekan pertahanan lawan sejak menit pertama.
Spanyol juga membukukan 27 tembakan dan menghasilkan Expected Goals (xG) sebesar 2,7. Statistik tersebut biasanya cukup untuk membawa sebuah tim meraih kemenangan dengan selisih beberapa gol.
Namun semua prediksi gagal menjadi kenyataan karena penampilan luar biasa para pemain Tanjung Verde. Mereka bertahan disiplin dan mampu menggagalkan setiap peluang yang diciptakan Spanyol.
Sosok yang paling menonjol dalam pertandingan tersebut adalah kiper veteran Vozinha. Penjaga gawang berusia 40 tahun itu tampil gemilang dengan mencatatkan tujuh penyelamatan dan menjaga gawangnya tetap steril hingga laga berakhir.
Vozinha tidak bekerja sendirian dalam meredam gempuran Spanyol. Dua bek tengah Tanjung Verde juga menunjukkan performa yang menjadi fondasi keberhasilan tim meraih satu poin berharga.
Diney Borges tampil dominan dalam duel-duel perebutan bola dan mencatatkan jumlah tekel terbanyak di antara para pemain Tanjung Verde. Ia menjadi salah satu tembok utama yang membuat lini depan Spanyol frustrasi.
Penampilan Diney bahkan dilengkapi aksi impresif rekan duetnya, Pico Lopes. Bek kelahiran Dublin tersebut mencatatkan 11 sapuan dan melakukan penyelamatan krusial untuk menggagalkan peluang emas Mikel Oyarzabal pada akhir pertandingan.
Menariknya, Tanjung Verde mampu bertahan dengan sangat bersih sepanjang laga. Tim berjuluk Hiu Biru itu hanya melakukan satu pelanggaran selama 90 menit, jumlah terendah yang pernah dicatatkan sebuah tim di Piala Dunia sejak data tersebut mulai direkam pada 1966.
Perjuangan para pemain Tanjung Verde juga mencerminkan perjalanan panjang mereka menuju panggung dunia. Bek Sidny Cabral masih bermain di divisi kelima Jerman tiga tahun lalu, sementara penyerang Garry Rodrigues pernah bekerja sebagai tukang pos sebelum berkarier sebagai pesepak bola profesional.
Pelatih Pedro Brito menilai hasil bersejarah tersebut mencerminkan karakter negaranya yang pantang menyerah.
“Ini berarti segalanya bagi negara kita. Ini bukti dari jati diri negara kita – ketahanan dan upaya untuk mengatasi kesulitan,” kata Brito. Hasil imbang melawan Spanyol kini menjadi momen yang tidak hanya dikenang dalam sejarah sepak bola Tanjung Verde, tetapi juga berpotensi mengubah kehidupan para pemain yang mewujudkannya.