x

Denny JA: Macron dan Prabowo, Dua Pemain Geopolitik yang Hebat

waktu baca 5 menit
Jumat, 29 Mei 2026 20:33 20 Akbar Budi

TODAYNEWS.IDHubungan yang semakin erat antara Indonesia dan Prancis bukan sekadar kisah dua negara yang memperkuat kerja sama bilateral.

Di tengah dunia yang semakin terbelah oleh rivalitas kekuatan besar, kemitraan ini membawa makna yang lebih dalam.

Menurut Denny JA, yang menghadiri jamuan kenegaraan di Istana Élysée, Paris, pada 28 Mei 2026, semakin intensnya hubungan Indonesia dan Prancis berpotensi menjadi model baru bagi negara-negara menengah yang ingin tetap berdaulat tanpa harus menjadi satelit kekuatan mana pun.

“Dunia sedang memasuki era baru. Banyak negara tidak ingin memilih menjadi perpanjangan tangan Washington ataupun Beijing. Mereka ingin berdiri dengan kaki sendiri, menjalin kerja sama dengan siapa pun yang menguntungkan rakyatnya. Indonesia dan Prancis sedang menunjukkan jalan itu,” ujar Denny JA.

Denny JA hadir dalam kapasitasnya sebagai Komisaris Utama Pertamina Hulu Energi, mengingat sektor energi menjadi salah satu pilar utama kerja sama kedua negara. Dalam kesempatan tersebut, ia juga berkesempatan bersalaman secara resmi, dan small talks, dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Bagi Denny JA, hubungan Indonesia-Prancis hari ini lebih dari sekadar kontrak ekonomi atau diplomasi biasa. Ia adalah simbol lahirnya jaringan baru negara-negara menengah yang percaya pada multilateralisme, kemandirian, dan kemampuan menentukan nasib sendiri.

Sejarah dunia sering ditulis oleh negara-negara adidaya. Namun abad ke-21 mungkin akan dikenang sebagai era ketika negara-negara menengah mulai menemukan keberanian untuk membentuk sejarahnya sendiri, tanpa harus tunduk pada siapa pun.

Emmanuel Macron: Pemimpin yang menolak menjadi pengikut

“Saya sudah lama mendengar kehebatan Macron,” ujar Denny JA.

Macron mencatat sejarah ketika memenangkan pemilu Prancis dengan menumbangkan dua partai besar yang selama puluhan tahun mendominasi politik Prancis. Ia membangun gerakannya sendiri dari hampir nol, lalu merebut Istana Élysée pada usia yang relatif muda.

Namun kehebatan Macron tidak berhenti di politik domestik.

Di panggung dunia, Macron tampil sebagai salah satu sedikit pemimpin Barat yang berani berbicara tentang “otonomi strategis Eropa.” Ia berkali-kali mengingatkan bahwa Eropa tidak boleh selamanya bergantung pada Amerika Serikat dalam urusan keamanan, teknologi, maupun ekonomi.

Ketika banyak pemimpin memilih kenyamanan mengikuti arus, Macron memilih jalur yang lebih sulit: menjaga hubungan erat dengan Amerika Serikat, tetapi pada saat yang sama memperjuangkan ruang gerak independen bagi Eropa.

Ia aktif dalam diplomasi Ukraina, mendorong agenda transisi energi, memperkuat posisi Prancis di Indo-Pasifik, dan berupaya menjadikan Eropa sebagai salah satu kutub utama dunia multipolar.

Macron memahami satu hal penting dalam geopolitik abad ke-21: kekuatan tidak lagi hanya lahir dari senjata. Kekuatan juga lahir dari teknologi, energi, diplomasi, budaya, dan kemampuan membangun koalisi.

“Macron adalah pemain geopolitik yang besar karena ia berani memikirkan posisi negaranya dalam sejarah, bukan sekadar dalam siklus pemilu berikutnya,” kata Denny JA.

Di tengah ketidakpastian global, Macron tampil sebagai arsitek yang berusaha membangun kembali posisi Prancis dan Eropa dalam tatanan dunia yang sedang berubah.

PRABOWO: NAGA ASIA YANG SEDANG BANGKIT

Menurut Denny JA, Indonesia juga sedang menunjukkan kualitas kepemimpinan geopolitik yang semakin menonjol di bawah Presiden Prabowo Subianto.

Belum genap dua tahun memimpin Indonesia, Prabowo telah membangun komunikasi yang intens dengan seluruh pusat kekuatan utama dunia. Ia aktif menjalin hubungan dengan Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, Inggris, dan Prancis.

Ini lima negara yang memiliki pengaruh sangat besar dalam arsitektur politik global dan kelimanya memiliki Hak Veto di PBB.

Yang menarik, hubungan tersebut tidak dibangun dalam semangat keberpihakan pada satu blok tertentu.

Prabowo justru menunjukkan kemampuan menjaga keseimbangan yang semakin langka di era rivalitas geopolitik saat ini.

Ia berbicara dengan Washington tanpa memusuhi Beijing. Ia menjalin hubungan erat dengan Beijing tanpa memutus hubungan dengan Barat.

Ia membuka komunikasi dengan Moskow tanpa kehilangan kepercayaan negara-negara Eropa.

Dalam dunia yang semakin terpolarisasi, kemampuan seperti itu adalah aset strategis yang sangat berharga.

Media Prancis, Opinion Internationale (28 Mei 2026), bahkan mulai menggambarkan Indonesia sebagai “Naga Asia terakhir yang bangkit” di bawah kepemimpinan Prabowo.

Julukan itu lahir dari kombinasi ukuran ekonomi Indonesia, bonus demografi, posisi geopolitik yang strategis, serta ambisi pembangunan nasional yang semakin besar.

Di luar dunia Barat, publik internasional selama ini mengenal tokoh-tokoh seperti Xi Jinping, Vladimir Putin, dan Narendra Modi sebagai pemimpin yang memberi warna kuat bagi zamannya.

Kini, Indonesia mulai dipandang memiliki figur yang mampu memainkan peran serupa bagi Asia Tenggara.

“Prabowo memahami bahwa abad ke-21 bukan lagi era negara yang kuat karena kekayaan alam semata. Negara akan kuat jika mampu membangun jaringan, teknologi, investasi, ketahanan pangan, energi, dan pertahanan secara bersamaan,” ujar Denny JA.

Karena itu, menurutnya, diplomasi Prabowo bukanlah diplomasi seremonial. Ia adalah diplomasi pembangunan.

Tentu, kedua pemimpin bukan tanpa keterbatasan. Macron menghadapi krisis legitimasi domestik pasca pembubaran parlemen, sementara Prabowo masih harus membuktikan diri di hadapan tantangan fiskal program unggulannya.

Denny JA menegaskan bahwa pertemuan Macron dan Prabowo memperlihatkan satu pesan besar tentang arah sejarah dunia.

Kita sedang memasuki zaman ketika negara-negara menengah tidak lagi sekadar menjadi penonton pertarungan para raksasa. Mereka mulai tampil sebagai pemain yang menentukan arah permainan.

Macron menunjukkan bagaimana sebuah negara dapat mempertahankan kemandirian di tengah aliansi yang kompleks. Prabowo menunjukkan bagaimana sebuah bangsa berkembang dapat membangun hubungan dengan semua kekuatan besar tanpa kehilangan jati dirinya.

“Di abad yang penuh ketidakpastian ini, yang akan bertahan bukanlah mereka yang paling keras suaranya. Yang akan bertahan adalah mereka yang paling mampu menjembatani dunia yang terbelah,” katanya.

Dan sejarah sering kali berubah bukan oleh mereka yang memilih satu kubu, melainkan oleh mereka yang mampu berbicara dengan semua kubu.

Pada akhirnya, diplomasi ini adalah tentang keberanian merajut harapan di atas retakan dunia. Ini bukan sekadar urusan kuasa, melainkan upaya memastikan suara kemanusiaan tetap bergema melampaui sekat ideologi yang memisahkan.

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

11 hours ago
1 day ago
1 day ago
2 days ago
5 days ago
6 days ago

LAINNYA
x
x
domain