Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI). Foto: TODAYNEWS/Dhanis TODAYNEWS.ID – Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana, menilai bahwa Republik Islam Iran saat ini telah melakukan klasterisasi terhadap negara-negara yang dianggap sebagai negara sahabat.
Menurutnya hal itu bisa dilihat dari sikap Iran yang mengizinkan hanya beberapa negara tertentu yang diizinkan melintasi Selat Hormuz yang merupakan 20 persen minyak dunia melalui jalur perairan tersebut.
“Nah kita tahu sekarang Iran mengatakan bahwa Selat Hormuz itu akan terbuka bagi teman-teman Iran. Jadi Iran melakukan klasterisasi berdasarkan teman atau musuh Iran,” kata Hikmahanto dalam diskusi terkait dampak geopolitik global di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (2/4/2026).
Dia mengatakan hal itu bisa terlihat dari sikap Iran yang mengizinkan kapal-kapal tangker dari beberapa negara yang dianggap sahabat bisa dengan mudahnya melintasi Selat Hormuz, seperti China, Rusia, Pakistan, India, Malaysia, Thailand dan lain-lain.
“Nah saya melihat bahwa negara-negara datang ke Iran untuk negosiasi diperbolehkan kapal-kapal tankernya bisa melewati Selat Hormuz. Termasuk di sini kalau negara-negara Eropa itu ada Spanyol, ada Perancis, ada Italia, dan kemudian juga sejumlah negara lain,” lanjutnya.
Namun yang menjadi persoalan kata Hikmahanto, apakah Iran akan menganggap Indonesia sebagai negara sahabat, mengingat hubungan Indonesia saat ini dengan Amerika Serikat (AS) semakin erat setelah bergabung dengan Bord of Peace (BoP) bentukan Presiden Donald Trump.
Sebab menurut Hikmahanto, apabila Iran menganggap Indonesia sebagai teman, apakah hal tersebut juga akan diterapkan Amerika yang akan menganggap Indonesia sebagai negara sahabat.
“Nah yang jadi masalah adalah kalau Iran menganggap Indonesia teman, pertanyaan kita apakah Amerika Serikat akan menganggap kita juga teman? Karena saya yakin Amerika Serikat juga akan melakukan klasterisasi,” ujarnya.
“Nah, ini dikotomi antara teman dan musuh, antara Iran dengan Amerika Serikat itu akan berdampak pada kita. Dampaknya soal minyak, kita berharap bahwa kalau terbuka maka mudah-mudahan kita tidak akan punya begitu masalah terkait dengan minyak,” pungkasnya.