x

Pengamat Bongkar Rahasia Kekuatan Iran, AS-Israel Dipastikan Sulit Memenangkan Perang

waktu baca 4 menit
Kamis, 26 Mar 2026 23:00 35 Dhanis Iswara

TODAYNEWS.ID – Perang antara Republik Islam Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang dimulai sejak 28 Februari 2026 lalu masih terus berlangsung hingga saat ini.

Di tengah eskalasi yang semakin intens dan meningkatnya korban jiwa, Iran dinilai tetap mampu mempertahankan daya tahannya, meski sejumlah tokoh penting negara itu gugur, seperti syahidnya Pemimpin tertinggi, Ayatullah Ali Khamenei dan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, Ali Larijani serta beberapa pejabat tinggi lainnya.

Pengamat Hubungan Internasional Sentral Politika, Muhammad Rizal Rumra, menilai bahwa ketahanan Iran tidak dapat dilepaskan dari fondasi ideologi yang telah lama mengakar dalam sistem negara dan membentuk karakter masyarakatnya.

“Kekuatan perlawanan Iran terhadap tekanan Amerika Serikat dan Israel tidak semata bertumpu pada kekuatan militer, tetapi berakar kuat pada ideologi Islam yang menjadi dasar negara,” kata Rizal pada Kamis (26/3/2026).

Menurutnya, ideologi tersebut menjadi faktor yang menjaga konsistensi Iran dalam menghadapi tekanan, bahkan ketika terjadi kehilangan pada level kepemimpinan.

“Meski sejumlah pemimpin seperti Ayatullah Ali Khamenei dan Ali Larijani dilaporkan terbunuh, konflik sejak 28 Februari 2026 tetap berlanjut tanpa menunjukkan tanda-tanda mereda,” lanjutnya.

Ia menjelaskan bahwa fondasi ideologis itu berkaitan erat dengan pemahaman terhadap risalah kenabian dalam Islam.

“Dalam perspektif Iran, ajaran Nabi Muhammad SAW tentang penyempurnaan akhlak menjadi dasar moral untuk menjaga dan melanjutkan risalah tersebut melalui sistem wilayatul faqih,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menilai bahwa kerangka tersebut membentuk cara pandang Iran dalam melihat dinamika global, khususnya terkait konflik di kawasan.

“Penindasan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel, termasuk di Palestina, dipandang sebagai bentuk kezaliman yang harus dilawan karena bertentangan dengan nilai moral tersebut,” katanya.

Narasi perlawanan itu, lanjutnya, tidak terlepas dari rujukan historis yang kuat dalam tradisi Iran.

“Nilai perjuangan tersebut juga merujuk pada keteladanan Imam Hussein dalam Pertempuran Karbala, yang menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan yang kini diwujudkan oleh Iran dalam bentuk perlawanan terhadap arogansi global dan imperialisme Amerika Serikat sebagai setan besar dan Israel sebagai setan kecil,” tambahnya.

Lebih lanjut, Rizal menilai bahwa ideologi tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan telah menyatu dengan karakter bangsa Iran modern.

“Ideologi ini kemudian membentuk karakter bangsa Persia yang dikenal sebagai bangsa pejuang sekaligus memiliki kapasitas intelektual yang tinggi,” ujarnya.

Menurutnya, perpaduan antara nilai perjuangan dan kecerdasan tersebut menjelaskan posisi Iran dalam peta geopolitik kawasan.

“Hal ini yang membuat Iran konsisten menentang zionisme dan menjadi satu-satunya negara di timur tengah yang aktif mendukung perlawanan Palestina,” jelasnya.

Sikap tersebut, lanjutnya, berimplikasi langsung pada tekanan ekonomi dari negara-negara Barat. Konsekuensinya, Iran terus dikenai sanksi dengan alasan pengembangan program nuklir, meskipun tuduhan tersebut hingga kini dinilai belum terbukti secara konkret.

“Inilah yang membuat berbagai upaya untuk melemahkan Iran sejak Revolusi Iran 1979 tidak membuahkan hasil signifikan,” ujarnya.

Namun demikian, tekanan tersebut justru memicu kemampuan adaptasi Iran. “Selama hampir lima dekade menghadapi sanksi, Iran justru mampu bertahan dan membangun kemandirian ekonomi serta teknologi,” ungkapnya.

Ia mencontohkan bahwa perkembangan teknologi militer menjadi salah satu indikator nyata dari proses tersebut.

“Pengembangan drone Shahed dan rudal berkecepatan tinggi menunjukkan bahwa Iran mampu mengembangkan teknologi strategis secara mandiri,” tambahnya.

Kombinasi antara ideologi dan kemandirian teknologi itu lah yang menjadi faktor utama Iran mampu bertahan hingga kini meski harus melawan AS dan Israel seorang diri.

Rizal menilai bahwa peluang kemenangan Iran dalam perang melawan AS dan Israel saat ini tidak dapat diukur dari parameter perang konvensional semata.

Ia menjelaskan bahwa Iran tidak menargetkan kemenangan cepat seperti doktrin militer Amerika Serikat, melainkan mengandalkan perang jangka panjang yang menguras sumber daya lawan.

Dengan strategi asimetris, perang atrisi, serta penerapan doktrin pertahanan mosaik, Iran dinilai mampu menciptakan tekanan berkelanjutan terhadap Israel dan Amerika Serikat di berbagai titik sekaligus.

“Dalam skenario ini, kemenangan Iran bukan selalu berarti mengalahkan secara total, tetapi mampu bertahan lebih lama, melemahkan lawan secara bertahap, dan memaksakan perubahan keseimbangan kekuatan,” ujarnya.

Ia menambahkan, selama fondasi ideologi, kapasitas teknologi, dan dukungan domestik tetap terjaga, peluang Iran untuk keluar sebagai pihak yang diuntungkan dalam konflik berkepanjangan ini dinilai tetap terbuka.

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

5 hours ago
2 days ago
2 days ago
3 days ago
3 days ago
6 days ago

LAINNYA
x
x